Bronchiolitis Pada Bayi (part 2)

Akhirnya, setelah menghadapi hari-hari berat Abi harus dirawat di RS, setumpuk kerjaan kantor yang agak terbengkalai karena cuti jagain Abi, Alhamdulillah Abi sudah kembali ceria πŸ™‚

Sejak Abi dirawat itu, sejujurnya bikin aku jadi agak parno dengan virus-virus. Makanya, aku cerewet dan ketat banget sama orang-orang di sekitar Abi. Nggak boleh lupa cuci tangan, dari kamar mandi cuci tangan, megang sesuatu cuci tangan, (semakin) nggak boleh dipegang sembarang orang, nggak pergi-pergi dulu, duhhh… Jadi kelewat protektif saking parnonya.

Sebenernya nih, saat bayi sampai usia 4 bulan aku dan suamiku sepakat supaya Abi nggak dicium-cium siapapun (termasuk kami berdua). Alasannya, daya tahan tubuh bayi itu masih sangat rentan. Aku berhasil ngejaga Abi nggak sakit sampe dia 7 bulan. Makanya nih, sekalinya kecolongan kaya gini, nyesel banget!

Seperti yang aku udah ceritain di postingan aku sebelumnya, Abi terkena bronchiolitis akibat ketularan flu.

Abi dirawat di rumah sakit selama 6 hari. Tiga hari pertama adalah tiga hari yang berat buat Abi maupun aku. Panas Abi naik turun bahkan sempat mencapai 38,8 derajat celcius. Aku takut banget semakin tinggi hingga akhirnya step.Β  Setiap makan, Abi selalu muntah, nyusu pun muntah, dikasih obat minum pun muntah. Walaupun di muntahannya banyak lendirnya, cuma aku khawatir aja nggak ada makanan yang diserap karena muntah terus. Mana Abi mulai mengalami penurunan nafsu makan. Abi nggak mau senyum apalagi ketawa. Dia kaya lemes gitu. Bikin Ibunya khawatir banget *tears

Terus, yang bikin makin galau nih. Abi kan awalnya diinfus di tangan kiri, eh tiba-tiba agak bengkak dan bikin dia ga bisa tidur karena nggak nyaman. Terpaksa deh, suster pindahin ke sebelah kanan. Dimana, tangan kanannya ada dua jari (telunjuk dan tengah) yang selalu dia kenyot apalagi kalau udah mulai ngantuk. Alhasil, sepanjang malam Abi rewel banget karena nggak bisa ngenyot. Dia rewel bukan karena sakitnya tapi karena nggak bisa ngenyot. Dokter yang kasian sama Abi, bilang ke suster untuk mindahin infusnya di tempat lain, tapi suster nggak ada yang tega harus nusuk-nusuk Abi lagi. Suster pun meminta aku untuk bersabar.

Pada hari ke-4 di rumah sakit, kondisi Abi jauh lebih baik. Panasnya sudah turun dan seharian cenderung stabil di angka 36 derajat celcius. Nafsu makannya juga membaik dia mulai mau makan agak banyak dan nggak muntah. Indikator utamanya sih, ini anak kembali super nggak bisa diem. Ha ha ha… Dia bolak balik sampai selang infus sering macet karena ketarik-tarik.

image

image

image

Kondisi yang membaik ini nggak lantas bikin Abi langsung dipulangin. Kenapa? Karena, beberapa hari kemarin panasnya naik turun dan Abi muntah-muntah, tetap perlu dipantau. Soalnya, penyakit kaya demam berdarah kondisinya drop lalu terlihat membaik padahal itu lah masa kritisnya. Dokter anaknya Abi pun langsung meminta untuk dilakukan pemeriksaan darah untuk DBD. Tadinya, Abi suspect DBD dan tipus juga. Cuma ketika panasnya stabil dokter bilang, sama sekali bukan tipus.

Saat akan dilakukan tes darah, aku shock banget karena di muka, leher, badan, dan punggung Abi muncul merah-merah. Namun, saat aku konsul ke dokter anaknya dia bilang bukan ruam merah DBD karena ruam merah DBD itu ketika kita tarik kulit kita merahnya nggak hilang, kalau merah-merah pada Abi ini hilang. Dia menduga ini semacam biang keringat. Jadi, dia menyuruh suster untuk membasuh Abi dengan sabum sebamed.

Hasil tes darah Abi pun keluar, dan hasilnya semua bagus. Abi NEGATIF DBD, Alhamdulillah ya Allah. Ibu Abi jadi tenang deh sambil ngarep besok udah bisa pulang. Sayangnya, besok harinya dokternya visit baru malem. Tapi, good news sih, beliau langsung bilang BOLEH PULANG. Ya Allah, memang kata-kata itu yang paling aku harepin setelah 6 hari harus bobo di tempat yang sama sekali nggak nyaman buat Abi.

Oiya, semenjak panasnya Abi udah turun, Abi di fisioterapi di klinik Fisioterapi. Dia dihangatkan dada dan punggungnya dengan mesin, di nebulizer, lalu ditepuk-tepuk dada dan punggungnya. Pertama kali fisioterapi, dia hanya ditepuk-tepuk dada dan punggungnya karena masih panas jadi nggak boleh dihangatkan dengan mesin itu karena ditakutkan akan makin panas.

Efek fisioterapi ini ngaruh banget buat Abi. Batuknya sama sekali nggak grok grok dan batuknya juga jadi semakin jarang terdengar. Lendirnya pun mulai keluar lewat pup. Dia pun mulai kelihatan semakin nyaman.

Pas pulang, dia di fisioterapi sekali lagi. Lalu, dibekali 3 macam obat. Rhinos dan Muchopet masih harus diminum tiap hari sampai kontrol minggu berikutnya. Tempra hanya untuk jaga-jaga jika Abi panas lagi.

Minggu lalu, Abi sudah kontrol dan dokter bilang Abi sudah sembuh. Alhamdulillah… Nggak ada yang paling bikin happy selain liat si anak bayi udah seger dan ceria kembali πŸ˜€

image

XOXO,

Icha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s