Our Breastfeeding Journey : Menyapih

Idul Fitri baru aja berlalu, Ibu Icha, Baba Ary, dan Abidzar mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir batin semuanyaaa…πŸ’—

Kali ini, kami mau membagi cerita seputar menyapih. 

InsyaAllah, Agustus mendatang, Abidzar akan menginjak usia 2 tahun. Di usia tersebut, dia harus menghentikan sebuah kebiasaan yang pastinya akan sangat sulit, yaitu menyusu langsung pada Ibunya. 

Proses menyapih ini, sebenernya sudah mulai aku coba lakukan beberapa bulan terakhir ini. Soalnya, setelah konsul sama dokter Tiwi di RSIA Bunda, dia concern banget kalau menyapih itu butuh proses, nggak bisa instan. Memulainya dengan mulai mengurangi intensitas menyusui dari yang tadinya dia dikit-dikit nyusu (semenjak menuju 2 taun dia tiap nangis dan mau tidur kudu nyusu), nyusunya hanya boleh malem aja. Awal-awal sih pasti ngamuk banget dia. Tapi, memang nggak boleh terus-terusan diturutin karena kalo kita terus turutin dia akan berpikir besok kalo mau nyusu ya nangis heboh aja pasti dikasih Ibu. 

Udah beberapa bulan ini Abi nggak minta nyusu di pagi, siang, sore. Aku kasih dia kesibukan misalnya membaca buku, bermain lego, bermain mobil-mobilan, main bola di luar rumah, pokoknya kegiatan yang bisa mengalihkan dia. Ini lumayan berhasil loh. 

Bahkan, beberapa kali malem pun dia bisa tidur tanpa minta nenen. Tapi, kalo tengah malem atau pagi kebangun pasti nangis minta nyusu.

Sebelum tidur, aku juga selalu bilang sama dia kalau dia sudah semakin besar, sama menyebut teman-temannya yang udh berhenti nyusu. Ternyata itu cukup membantu membuat dia nggak nyusu. Tapi, kalau udah tidur, kayanya di bawah alam bawah sadar dia ngamuk minta susu. 

Semingguan yang lalu, aku memutuskan untuk menyapih karena kami berdua akan menyusul Baba ke Sidoarjo. Aku khawatir kalau menyapih disana akan semakin repot karena kami hanya bertiga, belum lagi kalau suamiku dinas dan aku hanya berdua Abidzar di rumah. Akhirnya, keputusan itu bulat, harus disapih. 

Sayangnya, negosiasi dengan Abi nggak kunjung berhasil. Tengah malem atau pagi saat kebangun dia kekeuh banget mau nenen. Akhirnya, aku mencoba menggunakan cara yang agak berbeda. Maafkan ya Nak, weaning with love-nya tidak berhasil 😦 

Salah satu cara yang diusulkan dokter Tiwi adalah tidur terpisah. Tapi, susah banget. Abi nggak mau tidur tanpa aku. Hiks! Mungkin karena 24jam dia terbiasa sama aku, nggak pernah aku ninggalin dia. 

Akhirnya, cara yang aku pakai adalah coba pakai lipstik dipayudara, ketika Abi ngeliat, dia jadi agak shock dan kaya mau nangis karena ngeliat payudara Ibunya merah-merah. Kasian sih sebenernya, tapi gimana lagi. Terus, aku coba ngetes nih nawarin nenen ke dia, dia langsung bilang, “ndak ndak, Ibu atit…” duhh, kasian kamu Nak….. 

Ini bukan soal tega atau nggak tega sih, ini lebih ke dia udah semakin besar dan saatnya lebih mandiri. Suatu hari dia bakal mengerti, ketika dia besar lalu mungkin menemukan tulisan ini, bahwa dulu Ibunya menyapihnya bukan karena berhenti menyayangi dia. Dia akan tetap merasakan keintiman yang sama dengan saat menyusu, tapi dengan cara yang berbeda.

Saat proses menyapih ini, aku juga mulai mengenalkan dia dengan susu UHT. Aku agak concern nih milih susu UHT-nya. Aku nggak mau susu UHT yang kandungan gulanya tinggi karena berpotensi bikin dia sugar rush. Setelah liat-liat ingredients macem-macem susu UHT di supermarket, pilihan jatuh ke Susu Ultra Mimi yang rasa plain (silakan cek ke supermarket ya, no iklan inii.. hehhee) karena kandungan gulanya nol.

Ternyata mengenalkan dia susu UHT yang plain adalah keputusan tepat. Soalnya, dia jadi nggak begitu suka susu yang ada rasanya. Paling hanya disruput beberapa kali, udah deh.

Semingguan ini disapih, awalnya Abi tidurnya gelisah kebangun sekitar 2 kali, tengah malem sama jelang subuh nangis tapi nggak bisa nyusu, kadang dia mau dikasi air putih, kadang menolak lalu tidur lagi. Tapi, Alhamdulillah beberapa hari ini tidurnya nyaman, bablas sampe pagi tanpa kebangun😁

Cuma memang di dia nempel banget kalau nenen Ibunya sakit. Jadi, pas aku jelasin nenennya udah sembuh pun, dia tetep bilang “atit..atit…”

Anyway, gimana pun caranya, apapun yang udah Buibu lakukan untuk menyapih, semuanya adalah demi kebaikan si kecil. Semoga kita semua sehat selalu yaahhh 😘

Menyusui itu adalah salah satu momen yang sangat indah buat Ibu. 

Saat dimana aku bisa memeluknya, merasakan kulit lembutnya, merasakan tatapan matanya, dan hal-hal membahagiakan lainnya. Tapi, berhenti menyusui, tidak boleh membuat kami kehilangan momen bahagia. Momen bahagia itu bisa dibangun dengan cara lain, main bersama, bersenda gurau, dan hal-hal membahagiakan lainnya….


XOXO,

Icha

Advertisements

6 thoughts on “Our Breastfeeding Journey : Menyapih

    1. Iyaaa kasian liat dia melas bgt masih mau nenen tp kitanya harus tegas hehe… Aku happy tp ngeliat dia akhirnya mandiri tanpa perlu nenen 😁

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s