Serunya Mengajak Anak Bermain 😀

Udah baca ceritaku tentang no gadget dan no televisi buat Abi? Buat yang belum boleh klik disini

Nah, karena aku bener-bener menyetop semua tontonan buat Abi, otomatis aku harus cari kegiatan pengganti yang seru, menyenangkan, dan pastinya juga bermanfaat buat dia. Aku berusaha memperbanyak kegiatan yang bikin dia banyak bergerak. Selain, aku pengen dia bergerak aktif untuk menstimulasi perkembangannya, aku juga berharap setelah banyak bergerak dia cape dan akhirnya mendapat tidur yang berkualitas 😊

Aku lagi suka mencoba beberapa playground baik indoor maupun outdoor yang aman buat anak-anak seusia Abi. Buat aku, tempat bermain yang aman itu udah syarat mutlak banget deh. Kan nggak mau, niatnya mau bikin anak happy malah kitanya jadi sedih karena anak kenapa-kenapa. Bener kan, Buibuuu?

Eh iya, ini aku share sedikit beberapa playground yang pernah Abi coba.

  • Chipmunks, Kota Kasablanka

(+) side :

  1. Tempatnya luas
  2. Aman karena lantai dilapisi karpet tebal
  3. Banyak bagian berupa balon-balon gitu. Bahkan, ada peluncuran dari balon. Jadi, aman banget kalau mau meluncur.
  4. Punya zona khusus juga buat anak-anak yang masih kecil buat main.
  5. Ada trampoline-nya juga buat anak-anak seusia Abi. Seruu deh..
  6. Tiketnya nggak gitu mahal, worth it lah buat tempat bermain yang bisa sepuasnya.
  7. Kalau lapar dan haus, ada kafe-nya juga loh, yang menunya pas lah buat anak-anak kaya fish n chips atau french fries.
  8. Kolam bolanya dibersihin karena pas dateng pernah pas kolam bolanya lagi nggak bisa dipakai.

(-) side :

  1. Orang tua yang nggak pakai kaos kaki suka nggak ditegor, padahal kan penggunaan kaos kaki itu penting buat kebersihan.
  2. Kurang diawasi ketat, seharusnya kan nggak boleh makan di dalam wahana, soalnya udah ada tempat makannya. Waktu itu, aku pernah nemuin lepehan makanan anak 😦

  • Miniapolis, Plaza Indonesia

(+)side :

  1. Tempatnya bener-bener bersih.
  2. Kolam bolanya itu keliatan bersih banget. Aku pernah baca juga katanya setiap hari kolam bola itu selalu dibersihin dengan vacuum khusus.
  3. Fasilitas dan peralatan bermainnya berkualitas banget. Kaya sepedanya bagus banget, ada mainan masak-masakannya emang dari ELC, terus wahana manjat-manjat dan luncurannya keliatan dari kayu yang bagus.

(-) side :

  1. Tiketnya agak pricey. Kalau mau main cho cho train, carouselle, atau wahana lain, harus membayar lagi.
  2. Tempat ini nggak begitu luas, jadi komen emak-emak pasti, “segini doang tempatnya?”. Soalnya, harga tiketnya memang nggak murah hehe… Cuma buat aku sih sejauh Abi happy, tempatnya bersih, dan aman, yasudahlaaah…

  • Playground, Kemang

(+) side :

  1. Ada area cukup luas yang bisa buat anak-anak lari-larian.
  2. Tiketnya pun affordable sekali.
  3. Lantainya pun terbuat dari karpet tebel gitu, jadi kalau jatuh, nggak begitu sakit.
  4. Tempatnya bagus dan bersih.
  5. Fasilitas bermainnya juga aman buat anak-anak.
  6. Ada kafe-nya, menunya cocok buat anak-anak. Waktu itu, Abi nyobain Mac n Cheese harga dan rasanya okelah.

(-) side :

  1. Sayangnya, di area permainan airnya, kolamnya kurang bersih ya. Padahal kan, yang main-main di sana anak-anak bayi.

  • PlayparQ, Kemang

(+) side :

  1. Punya dua area bermain, indoor dan outdoor.
  2. Cuma harga tiketnya affordable kok, jadi lumayan lah buat main-main.
  3. Area bermain airnya seru. Cuma mesti hati-hati karena sekitarnya licin. Jadi, kalau anak-anak lari-larian harus diawasin betul.
  4. Kamar mandinya kurang nyaman, padahal kan anak-anak akan mandi disana setelah bermain air.
  5. Ada kafenya juga, cuma nggak makan disana jadi nggak tau menunya kaya apa 😀

(-) side :

  1. Area outdoor-nya kurang bersih, itu bisa diliat dari kaos kaki yang Abi pakai super kotor.
  2. Wahana buat meluncur dan manjat-manjatnya cukup tinggi. Sepertinya, agak riska kalau buat anak-anak batita. Pengawasannya kudu ekstra ketat Buibuu.

Nah, disamping ke playground gitu, aku suka bawa Abi ke tempat bermain di mall kaya Carniville di Grand Indonesia, Fun World, Timezone, dan lain-lain. Terus, Abi juga suka main Cho Cho Train dan Zoomov.

Semua itu tentu saja perlu pendampingan dari orang tua karena belum aman buat anak usia Abi dilepas sendirian. Hal yang penting untung digarisbawahin, sekalipun anak-anak dibawa playdate dan para Ibu asik mengobrol, ngawasin anak itu tetep nggak boleh lengah. Disamping anak bisa jatoh atau luka, banyak banget orang yang manfaatin peluang ketika Ibu lengah untuk melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan 😢

Ehh, tapi Abi nggak harus main di tempat bermain aja kok. Kadang, aku ajak dia bermain di rumah, ngeluarin semua mainannya, biar dia memilih mainan yang dia mau.

Kotak mainan dijadiin mobil-mobilan dan setir-setiran nggak ketinggalan
Main mobil-mobilan di sekitar rumah juga seru

Tapi tetep loh, di manapun bermainnya unsur keamanan tetep perlu diperhatiin. Kaya misalnya main di rumah juga bukan tanpa risiko. Anak naik-naik kalau nggak hati-hati bisa jatuh. Atau main di depan rumah, kalau pas banyak kendaraan berseliweran tentu juga kurang aman untuk dia. Intinya kalau buat aku adalah bagaimana aku melakukan pengawasan maksimal saat Abi bermain, tanpa membuat dia terkekang untuk bermain. Kebanyakan “jangan”, ” nggak”, “no”, pasti bikin dia kesel kan.

Kira-kira kalau dirangkum indikator tempat bermain yang aman versi aku itu sih kaya beberapa poin berikut :

  • Fasilitas aman

Dalam artian, semua fasilitas yang disediakan memperhatikan sisi keamanan anak. Pengelola wajib melakukan cek tiap hari terhadap fasilitas, jangan sampai ada yang tajam, rusak, licin atau hal-hal lain yang membahayakan anak-anak. Misalnya, ada besi mainan yang keluar sehingga berpotensi membuat anak luka.

  • Pengamanan yang baik

Demi ketenangan Ibu, aku sih bakalan milih tempat dengan pengawasan staff yang baik. Kadang, kalau kaya aku gini yang no baby sitter, bener-bener harus jaga anak nggak boleh lengah. Buat antisipasi aja sih, aku prefer tempat yang staff-nya concern banget ngawasin anak bermain. Terus, tempatnya juga dilengkapi dengan CCTV, biasanya di mall ada sih. Cuma, kalau yang outdoor nih agak jarang.

  • Ada tempat khusus batita

Ini penting juga buat aku karena Abi masih under 2 taun, di mana dia belum bisa digabung sama anak-anak yang udah besar. Misalnya, kaya main trampoline, kalau digabung sama anak-anak yang udah agak besaran, Abi pasti kepental-pental, he he he..

  • Tidak saat ramai

Kalau aku paling males bawa Abi main weekend karena pasti rame banget. Ini tuh menyangkut soal ketidaknyamanan anak. Pasti arena bermain akan dikuasai anak-anak yang usianya lebih besar dan kadang mereka nggak peka kalau disekitarnya ada adik yang usianya lebih kecil, kalau nggak hati-hati malah bisa mencelakakan. Anak-anak usia Abi juga nggak akan puas bermain karena mainan dikuasai anak yang lebih besar. Udah gitu, rame orang juga nggak bagus juga karena virus mudah banget pindah pada anak-anak. Ohhh Noooo…!

  • Bersih

Kebersihan tempat bermain juga sangat penting buat aku. Ini demi kesehatan anak tercinta. Aku nggak mau juga pulang dari sana, anak malah jadi sakit. Aku tuh paling parno kalau tempat main nggak rajin dibersihin sama pengelolanya karena virus itu bisa berpindah dengan cepet loh. Misalnya, kolam bola nggak pernah dibersihin, anak yang kena batuk pilek masuk kesana, begitu setelahnya anak yang sehat masuk kesana juga, langsung deh anak yang sehat kena virus batuk pilek juga. Kasihan kan?

Nah, semua poin itu sangat penting menjadi bahan pertimbangan buat aku ngajak Abi ke tempat bermain.

Tapi, kadang ada kondisi Abi terlanjur sakit setelah dari tempat bermain. Biasanya, sih kenanya batuk pilek. Abis itu dilanjut demam😢 Itu kayanya karena kecapean juga, daya tahan tubuh jadi menurun, ehh jadi gampang masuk virus deh. Khawatir sih udah pasti ya, namanya juga anak sakit, tapi Alhamdulillah aku lumayan tenang karena selalu siap Tempra dirumah.

Fyi, dari zaman aku kecil seumur Abi, aku juga dikasih Tempra kalau demam. Hihi, jadi ini tuh warisan turun temurun ceritanya.

Dari dulu dsa-nya Abi ngasi rekomendasi Tempra juga buat pertolongan pertama kalau Abi demam. Biasanya sih pakenya memang Tempra Drop, tapi karena Abi udah mau 2 tahun, harusnya udah bisa ganti Tempra Syrup.

Abi sih biasanya 2-3 kali minum Tempra demamnya udah reda. Tapi, Tempra ini bisa dipakai setiap 4 jam kok Buibuuu kalo belum reda demamnya, maksimal 5 kali pakai dalam sehari yaah.. Nah, tapi kalau demamnya udah lebih dari 2 hari, sebaiknya langsung konsultasi ke dsa deh buat dapat penanganan lebih lanjut. Info lengkapnya bisa di klik Tempa Syrup

Aku sih, nggak pernah lupa masukin Tempra ke tas Abi. Soalnya, kadang kondisi-kondisi nggak terduga suka terjadi. Misalnya, perginya seger dan sehat, ehh pas pergi mendadak panas. Taunya dia lagi mau tumbuh gigi. Nah, Tempra membantu meredakan panas anak Buibu dengan aman. Makanya, selalu siap Tempra di tas yaahhh…

Buibuuu, jangan  parno-parno lagi yaa.. Karena gimana pun dunia anak-anak itu ya dunia bermain. Jadi, biarkan dia bermain sebebas-bebasnya apalagi di  usia yang sedang senang-senangnya eksplor. Nah, sambil kita sebagai orang tua mengusahakan keamanannya baik dari aman tempat bermainnya sampai aman kesehatannya.

Karena semua yang kita usahain nggak ada artinya kalau anak sakit kan, Buibu?

Semoga bermanfaat.. Ditunggu sharing-nya dan jangan lupa tinggalin komen yaaah 😘

XOXO,

Icha

DISCLAIMER : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

Advertisements

Spa Bayi, Perlu Nggak Sih?

Beberapa minggu belakangan ini, Abi lagi nggak pules tidurnya. Setiap malem dia bangun dan maunya nyusu terus. Duhhh, Ibunya jadi ikutan lemes deh paginya karena kurang tidur. Masalahnya nggak tau karena gigi taringnya atas bawah yang lagi mau tumbuh atau karena badannya pegal-pegal. Soalnya, dia sering seharian main nggak berenti, terus lagi suka posisi mau koprol, bahkan sesekali koprol gitu. Ngerinya dia salah urat atau apa kan. Aku dan suami akhirnya mutusin coba bawa dia ke baby spa supaya dia di massage.

Nah, sebenernya di Batam ini udah ada baby spa yg cukup famous itu lohhh, tempat Abi biasanya massage. Cuma, ada juga baby spa lokal yang tentunya harganya lebih murah *emak-emak irit* Kita coba deh Labatu Baby Spa. Buat aku sih very recommended shayyy! 

Aku ambil paket My Star Package, yaitu paket massage dan fruity bath selama 75 menit seharga Rp. 179.000,-. Mayan kannn? 

Sambil nunggu Mbak terapisnya siapin buat massage dan berendam, Abi nunggu sambil dikasi mainan gitu. Mbak-mbaknya super ramah deh.

Abis itu, Abi langsung di massage deh. Karena bocahnya lagi nggak bisa diem, jadi di massage sambil main dan duduk. Anaknya nggak mau disuruh tiduran boook! Hahaha.. Nah, mereka pake oil yang dikirim langsung dari Bali. Tenang aja Buibu, ini aman buat anak-anak dan nggak bikin alergi kok. Kalau aku cium sih bau markisa gitu. Hmmm enaaakk..

Selanjutnya, Abi scrubing dan berendam di bath tub. Scrub-nya dari bahan susu. Jadi, tenang sajaaah, tentu aman buat si kecil 🙂 Nah, di bath tub-nya selain dikasi mainan buah-buahan, dikasi juga potongan wortel, lemon, dan timun loh. Jadi, beneran wangi dan segar.

Agak beda sama baby spa sebelah nih,kalo Labatu ini tempat massage dan tempat berendamnya kebuka. Jadi, kita bisa liat anak-anak lain yang lagi spa. Sejujurnya, aku lebih suka yang ini sih. Soalnya, untuk seumur Abi gini, dengan tempat terbuka dia bisa liat teman-temannya di massage dan berendam. Dia bakal ngerasa rame dan seru. Ketimbang, dibilik-bilik sendiri dan hanya diputar video-video kartun.

Nggak berhasil ke rotate nih 😦

Tapi, mereka juga siapin tempat yang tertutup kok buat anak-anak yang agak besaran. Mereka juga punya ruangan khusus buat yang mau spa sekeluarga. Iya, jadi nggak cuma baby dan ibunya, bapaknya pun nggak cuma bengong-bengong nungguin tapi bisa ikutan treatment juga. Wahhh, asyik bener. Kayanya, next mau juga nih nyoba buat sekeluarga 😀

Eh iya, banyak ibu ibu yang suka bertanya-tanya, spa untuk bayi perlu nggak sih? Kalau buat aku sih, perlu banget! Sama aja kaya kita yang dewasa, anak bayi butuh massage atau pijatan lembut juga. Nah, tempat spa bayi ini pasti terapisnya sudah di-training jadi aku yakin bayi-bayi ini akan aman dipijat sama mereka. Aku sih percaya banget, massage bayi ini bikin peredaran darah dia menjadi lancar. Pastinya si bayi juga akan ngerasa sangat relaks deh.

Keuntungan spa bayi yang paling berasa nih, Abi tidurnya jadi enak dan pules gituuu.. Sampe kaya mager mau ngapa-ngapain gitu loh hahaha…*biasanya kan nggak mau diem* 

Yang penting, saat mau spa bayi jangan pas si kecil lagi demam, panas tinggi, abis makan banget, atau abis vaksin. Kalau flu, Abi pernah aku bawa baby spa, ada juga kan tuh spa bayi yang khusus buat bayi yang lagi flu, abis itu Abi tidurnya enaaaak… Spa baby bisa dimulai dari bayi umur 2 bulan asal beratnya udah mencapai 5 kg.

Kalau Abi, pas massage emang suka nggak bisa diem karena mungkin dia agak geli ya. Tapi, giliran berendam, dia ogah diangkat. Ha ha ha… 

Sekarang ini sih di berbagai kota udah mulai banyak ya Buibu berbagai pilihan salon spa baby. Harganya pun variatif, dari yang mehong sampe yang murce. Silakan mencoba yaaahh 🙂

XOXO,


Icha

Bronchiolitis Pada Bayi (part 2)

Akhirnya, setelah menghadapi hari-hari berat Abi harus dirawat di RS, setumpuk kerjaan kantor yang agak terbengkalai karena cuti jagain Abi, Alhamdulillah Abi sudah kembali ceria 🙂

Sejak Abi dirawat itu, sejujurnya bikin aku jadi agak parno dengan virus-virus. Makanya, aku cerewet dan ketat banget sama orang-orang di sekitar Abi. Nggak boleh lupa cuci tangan, dari kamar mandi cuci tangan, megang sesuatu cuci tangan, (semakin) nggak boleh dipegang sembarang orang, nggak pergi-pergi dulu, duhhh… Jadi kelewat protektif saking parnonya.

Sebenernya nih, saat bayi sampai usia 4 bulan aku dan suamiku sepakat supaya Abi nggak dicium-cium siapapun (termasuk kami berdua). Alasannya, daya tahan tubuh bayi itu masih sangat rentan. Aku berhasil ngejaga Abi nggak sakit sampe dia 7 bulan. Makanya nih, sekalinya kecolongan kaya gini, nyesel banget!

Seperti yang aku udah ceritain di postingan aku sebelumnya, Abi terkena bronchiolitis akibat ketularan flu.

Abi dirawat di rumah sakit selama 6 hari. Tiga hari pertama adalah tiga hari yang berat buat Abi maupun aku. Panas Abi naik turun bahkan sempat mencapai 38,8 derajat celcius. Aku takut banget semakin tinggi hingga akhirnya step.  Setiap makan, Abi selalu muntah, nyusu pun muntah, dikasih obat minum pun muntah. Walaupun di muntahannya banyak lendirnya, cuma aku khawatir aja nggak ada makanan yang diserap karena muntah terus. Mana Abi mulai mengalami penurunan nafsu makan. Abi nggak mau senyum apalagi ketawa. Dia kaya lemes gitu. Bikin Ibunya khawatir banget *tears

Terus, yang bikin makin galau nih. Abi kan awalnya diinfus di tangan kiri, eh tiba-tiba agak bengkak dan bikin dia ga bisa tidur karena nggak nyaman. Terpaksa deh, suster pindahin ke sebelah kanan. Dimana, tangan kanannya ada dua jari (telunjuk dan tengah) yang selalu dia kenyot apalagi kalau udah mulai ngantuk. Alhasil, sepanjang malam Abi rewel banget karena nggak bisa ngenyot. Dia rewel bukan karena sakitnya tapi karena nggak bisa ngenyot. Dokter yang kasian sama Abi, bilang ke suster untuk mindahin infusnya di tempat lain, tapi suster nggak ada yang tega harus nusuk-nusuk Abi lagi. Suster pun meminta aku untuk bersabar.

Pada hari ke-4 di rumah sakit, kondisi Abi jauh lebih baik. Panasnya sudah turun dan seharian cenderung stabil di angka 36 derajat celcius. Nafsu makannya juga membaik dia mulai mau makan agak banyak dan nggak muntah. Indikator utamanya sih, ini anak kembali super nggak bisa diem. Ha ha ha… Dia bolak balik sampai selang infus sering macet karena ketarik-tarik.

image

image

image

Kondisi yang membaik ini nggak lantas bikin Abi langsung dipulangin. Kenapa? Karena, beberapa hari kemarin panasnya naik turun dan Abi muntah-muntah, tetap perlu dipantau. Soalnya, penyakit kaya demam berdarah kondisinya drop lalu terlihat membaik padahal itu lah masa kritisnya. Dokter anaknya Abi pun langsung meminta untuk dilakukan pemeriksaan darah untuk DBD. Tadinya, Abi suspect DBD dan tipus juga. Cuma ketika panasnya stabil dokter bilang, sama sekali bukan tipus.

Saat akan dilakukan tes darah, aku shock banget karena di muka, leher, badan, dan punggung Abi muncul merah-merah. Namun, saat aku konsul ke dokter anaknya dia bilang bukan ruam merah DBD karena ruam merah DBD itu ketika kita tarik kulit kita merahnya nggak hilang, kalau merah-merah pada Abi ini hilang. Dia menduga ini semacam biang keringat. Jadi, dia menyuruh suster untuk membasuh Abi dengan sabum sebamed.

Hasil tes darah Abi pun keluar, dan hasilnya semua bagus. Abi NEGATIF DBD, Alhamdulillah ya Allah. Ibu Abi jadi tenang deh sambil ngarep besok udah bisa pulang. Sayangnya, besok harinya dokternya visit baru malem. Tapi, good news sih, beliau langsung bilang BOLEH PULANG. Ya Allah, memang kata-kata itu yang paling aku harepin setelah 6 hari harus bobo di tempat yang sama sekali nggak nyaman buat Abi.

Oiya, semenjak panasnya Abi udah turun, Abi di fisioterapi di klinik Fisioterapi. Dia dihangatkan dada dan punggungnya dengan mesin, di nebulizer, lalu ditepuk-tepuk dada dan punggungnya. Pertama kali fisioterapi, dia hanya ditepuk-tepuk dada dan punggungnya karena masih panas jadi nggak boleh dihangatkan dengan mesin itu karena ditakutkan akan makin panas.

Efek fisioterapi ini ngaruh banget buat Abi. Batuknya sama sekali nggak grok grok dan batuknya juga jadi semakin jarang terdengar. Lendirnya pun mulai keluar lewat pup. Dia pun mulai kelihatan semakin nyaman.

Pas pulang, dia di fisioterapi sekali lagi. Lalu, dibekali 3 macam obat. Rhinos dan Muchopet masih harus diminum tiap hari sampai kontrol minggu berikutnya. Tempra hanya untuk jaga-jaga jika Abi panas lagi.

Minggu lalu, Abi sudah kontrol dan dokter bilang Abi sudah sembuh. Alhamdulillah… Nggak ada yang paling bikin happy selain liat si anak bayi udah seger dan ceria kembali 😀

image

XOXO,

Icha

Bronchiolitis Pada Bayi

Setelah 7 bulan kemarin Abi nggak pernah sekalipun sakit, kali ini dia kena batuk pilek. Huhuhu…

Duhh, kena batuk pilek kita yang dewasa gini aja rasanya nggak nyaman, bobo nggak enak, bete deh pokoknya. Nggak kebayang kalo anak bayi yang batpil, huhu kasian banget 😦

Alhamdulillahnya, Abi bukan tipikal anak yang rewel. Sekalipun dia kena batpil dia tetep jadi anak soleh dan super anteng kebanggaan Ibu.

Beberapa hari lalu, kata ncusnya Abi, Abi bersin-bersin beberapa kali terus agak meler. Padahal, dirumah nggak ada yang kena flu. Nah aku keingetan, weekend kemarin main ke rumah omnya Abi, dia baru sembuh flu. Nah, Abi ditidurin dikamarnya yang spreinya belum diganti. Aku yang salah nih, nggak hati-hati banget. Maafin Ibu ya, Nak…

Sebelum semakin parah batpilnya, aku bawa Abi buat massage yang memang khusus buat batpil di mom n jo. Lumayan juga nih harganya Rp. 215.000,- buat sekali treatment dan kurang lebih sekitar 30menit. Awal-awal Abi santai, cuma lama-lama dia nangis dan cranky, mungkin juga karena ngantuk. Cuma abis massage dia langsung tidur pules.

image
Ekspresi bete di massage

Sekitar semingguan Abi sakit batpil aku nggak bawa dia ke dokter. Tapi, aku intens komunikasi sama dokter anaknya dan sahabatku yang dokter. Beberapa hal yang aku lakukan untuk Abi di rumah :
1.) Abi dikasih minum air putih lebih banyak dari biasanya
2.) Abi dikasih ASI lebih banyak dari biasanya
3.) Kalau tidur ditengkurepin atau dimiringin supaya dahaknya naik
4.) Jemur Abi di matahari pagi
5.) Porsi makan agak dikurangin sedikit, takutnya kalau terlalu kenyang dia eneg, batuk-batuk terus muntah
6.) Balur vicks dada dan punggungnya supaya lebih hangat

Setelah aku baca berbagai macam artikel, memang ternyata wajar bayi diatas 6 bulan kena flu. Soalnya, 6 bulan ke belakang kan dia hanya mengonsumsi ASI yang mana bikin daya tahan tubuhnya sangat baik, sehingga nggak pernah sakit. Nah, 6 bulan keatas dia udah mulai makan kan, jadi yg dikonsumsi bukan ASI saja.

Hari ke-9 Abi kena batpil, pileknya sih udah lumayan, tapi batuknya masih grok grok. Kasian kalo udah batuk gitu. Walaupun kalau tidur dia tetep pules sih. Tapi,tiba-tiba aku dapet kabar dari orang rumah kalau suhu badan Abi agak hangat dan dia agak lemes, maunya tidur aja.

Nggak pikir panjang langsung aku bawa ke dokter Utami Roesli. Siang itu jadwalnya dokter Utami untuk kelas laktasi, aku minta tolong banget sama dokter Utami supaya aku bisa disisipin karena Abi nggak mungkin nunggu-nunggu sampai besok. Dokter yang super duper baik itu pun bersedia. Alhamdulillah, makasih ya Allah.

Dokter Utami menduga Abi kena bronchiolitis. Nggak pernah sekalipun aku dengar nama penyakit itu. Dia pun meminta supaya Abi di rontgen paru untuk membuktikan diagnosanya. Dia bilang bahwa kemungkinan besar ada infeksi virus, namun sejauh mana infeksinya itu yang harus segera ditangani.

Setelah menunggu kurang lebih sejam, hasil menunjukan bahwa Abi benar-benar kena bronchiolitis. Ada dua pilihan, rawat jalan dengan minum obat oral atau langsung digempur dengan infus. Dokter Utami sih mengembalikan semua pilihan di aku. Aku mutusin buat dirawat dan digempur dengan infus karena hari itu Abi keliatan makin lemas. Nggak nafsu makan, minum pun nggak begitu banyak. Diapersnya aja nggak diganti beberapa jam masih terasa enteng. Yaaa, Abi dehidrasi 😦

Begitu Abi masuk ruang perawatan, hal pertama yang dilakukan adalah diambil darah. Kasian banget ditusuk sana sini sulit menemukan pembuluh darah Abi karena Abi ternyata mewarisi pembuluh darah Ibunya yang tipis-tipis dan sulit ditemuin. Setelah beberapa kali ditusuk baru nemu dan itu Abi udah pake acara kejer luar biasa.

image

Begitu mau ditusuk buat pasang infus, suster bilang dikasi jeda aja dulu karena nyari pembuluh darahnya lumayan susah. Akhirnya, Abi di nebulizer yang tujuannya buat memperlancar pernafasannya dan supaya dahak-dahaknya mencair, lalu keluar melalui feses.

image

Setelah itu, kembali Abi dicoba untuk pasang infus. Tusukannya berkali-kali, bukan salah suster juga sih, mereka udah try do the best, udah hati-hati banget tapi ya memang pembuluh darah Abi tipis, kecil, dan nggak keliatan. Abi nangisnya udah kejer banget, sulit ditenangkan. Pasti sakit ya, Nak.. Hancur banget ya hati ternyata ngeliat anak digituin. Dannnn… Akhirnya berhasil ditemuin, Alhamdulillah…

Nah, apa sih bronchiolitis itu?
Dokter Utami ngejelasin secara garis besar kalau bronchiolitis itu terjadinya infeksi virus di paru-paru. Abi tertular virus flu dari orang dewasa, mungkin kalau nularnya sesama orang dewasa jadinya flu biasa, cuma kalau nularnya ke bayi jadi lumayan berat ya. Dokter Utami ini bilang virus ini ternyata ga mati hanya dengan ASI bisa karena 2 hal :
1.) Ibunya Abi nggak pernah sakit ini, sehingga nggak punya antibodi terhadap penyakit ini di dalam air susunya.
2.) Air susu ibunya Abi punya antibodi terhadap penyakit ini hanya saja virusnya terlalu kuat nggak cukup dilawan pakai ASI.

Aku browsing-browsing tentang penyakit ini. Jadi, virus menginfeksi saluran udara terkecil yang bercabang dari bronkus (tabung pernapasan utama) di dalam paru-paru bayi. Infeksi ini menyebabkan saluran tersebut meradang dan lendir pun mengumpul di saluran ini, ini yang bikin pernapasan terganggu. Salah satu virus yang bisa menginfeksi saluran ini adalah virus penyebab influenza.

Penangan di rumah sakit selain diberi infus untuk mengatasi dehidrasinya, Abi juga diberikan antibiotik melalui selang infus.

Karena panas Abi naik turun, maka diberikan obat penurun panas. Lalu, diberikan juga obat batuk.

Untuk dahaknya selain di nebulizer, Abi juga diberi fisioterapi. Dada dan punggungnya ditepuk-tepuk sama terapisnya. Ternyata Abi doyan banget, sampe ketiduran. Abis fisioterapi dia pules bobonya. He he he…

Sekarang udah hari ke-3 Abi di rumah sakit, doain cepet sembuh yaaa.. Ibunya nulis blog sambil ngeliat dia yang lagi bobo pules 😀

image

Ayo cepet sembuh, Abidzar… Biar kita cepet pulang ke rumah sayang…

XOXO,

Icha

Kapan Bayi Bisa Tengkurap Sendiri?

Setiap bayi tumbuh dan berkembang dengan berbeda-beda. Seperti ceritaku sebelumnya, Abi udah mulai mau tumbuh gigi dari usia menjelang 3 bulan.   Orang-orang sampai pada kaget dengan tumbuh gigi yang begitu cepat ini.

Nah, kali ini aku mau membahas soal tengkurap. Kapan bayi moms bisa tengkurap sendiri? Pasti beda-beda jawabannya!

Banyak komen-komen yang sering bermunculan ketika anak sampai usia 4 atau 5 bulan belum bisa tengkurap sendiri. “Kok bayinya blm bisa tengkurap sih?” Hmmm, komen-komen begitu nggak usah didengerin deh.

Sahabatku cerita, dia mengikuti sebuah grup moms yang membicarakan bahwa anaknya yang berusia hampir 4 bulan harus sering dilatih agar bisa tengkurap sendiri. Sahabatku akhirnya melatih dengan cara mengajari bayinya rolling supaya bisa tengkurap sendiri. Dan tau nggak mom, mungkin ada salah urat atau keseleo gitu, bayinya jadi kesakitan dipegang punggungnya bahkan sampai panas hingga 39,5 derajat celcius. Katanya, sepanjang malam nggak mau tidur tanpa digendong. Paginya, bayinya langsung dibawa ke tukang urut bayi dan sembuh. Alhamdulillah..

Memperlakukan anak bayi itu memang mesti ekstra hati-hati deh. Soalnya, katanya anak bayi cepet banget mengalami trauma.

Aku sendiri nggak pernah maksain Abi harus bisa tengkurap sendiri. Aku selalu berpikir bahwa pada masa-masa usia bayi ini Abi sedang berproses untuk tumbuh dan berkembang dan aku membiarkan semua proses itu terjadi secara alamiah.

Abi sering memiringkan badannya sendiri sejak usianya 3 bulan, bahkan terkadang dia jauh lebih nyenyak tidur dengan posisi miring. Lucunya, dari lahir sampai usia 5 bulanan, Abi paling marah kalo disuruh tidur tengkurap. Bisa teriak lalu nangis.

Terkadang di malam hari, Abi suka nggak sadar tidur miring banget sampe nyaris tengkurap.

Dokter Utami sih sering bilang, Abi yang bobot tubuhnya cukup lumayan (baca : cukup berat) memang agak keberatan pantat untuk tengkurap, tapi pasti bisaa!

Yey, hari itu tiba jugaa… Awal Desember, Abi udah bisa tengkurap sendiri, tapi belum bisa balik lagi. Kita harus bantu dia untuk telentang lagi. 19 Desember 2016, usia Abi 4,5 bulan dia udah bener-bener bisa tengkurap dan telentang sendiri. Senangnya bukan main moms 😀

Nah, sekarang umurnya udah 6,5 bulan telentang tengkurapnya udah jago banget deh. Sekarang hobinya guling-gulingan terus dan selalu menguasai kasur. Lucunya lagi, sekarang dia lebih pules kalau tidurnya tengkurap. Hi hi hi…

Jangan selalu berpatok pada umur dan melihat perkembangan anak lain lalu ngebandingin dengan anak kita moms. Setiap hari pasti ada hal baru yang ditunjukan bayi kita. Dia akan melalui tumbuh dan berkembang dengan prosesnya masing-masing. Dan biarlah proses itu terjadi secara alamiah 🙂

image

XOXO

Icha

Growth Spurt? Apa Sih Itu?

Abi’s First Teeth :D

Dari lahir, Abi itu nggak doyan begadang alias jarang-jarang bangun malem. Pernah pas baru beberapa hari pulang ke rumah, dia bobo sampai 5 jam. Aku ngeri kan jadinya dan was-was kenapa nih anak kok nggak bangun minta mimi susu. Ternyata, memang dasar anaknya yang kuat bobo aja nihhh…

Dari lahir, Abi juga jarang banget nangis. Nggak pernah nangis lama-lama. Paling standar lah, nangis kalau haus, lapar, ngantuk, dan kepanasan. Luar biasa memang anakku… Dari hamil sampai lahir nggak pernah ngerepotin emaknya. Tau aja, kalau Babanya jauh 😀

Tapi suatu ketika, Abi yang nggak doyan begadang dan jarang nangis mendadak rewel banget. Malem bangun tiap dua jam dan maunya nyusu terus. Asli deh, rewelnya beberapa kali lipat dan bikin aku jadi serba salah. Waktu itu malah belum dapet pengasuh, stress lah Ibu Abi.

Nangis terus, mana maunya digendong mulu. Sedangkan, berat badannya lumayan lohhh… Abi di umur 3 bulan itu beratnya 6,5 kilo. Hmmmm, lumayan kalau ngegendong-gendong dia. Udah gitu, malem bangun-bangun terus. Maunya nempel teruuuuss…

Sampe suatu hari nih, pas Abi lagi nangis dengan suara menggelegarnya itu plus mulutnya nganga gede, neneknya Abi nemuin kalau ada bayangan putih di gusi bagian bawah. Yaps, Abi mau tumbuh gigi. Pantesaannnnn…..!

Kadang orang dewasa aja kalau mau tumbuh gigi ada yang kesakitan, bahkan ada yang demam, ada yang gusinya gatel, macem-macem deh. Orang dewasa sih mending masih bisa nahan sakitnya, kalau nggak tahan bisa minum air garam atau paracetamol. Ini anak bayi 3 bulan yang mau tumbuh gigi, kasian banget ngeliatnya 😦 Abi jadi cranky banget. Untungnya, nggak pakai acara sakit atau demam. Dan kondisi seperti itu juga nggak bertahan lama-lama banget, hanya sekitar 2 mingguan.

Oiya, karena mau tumbuh gigi, air liur yang keluar dari mulut Abi juga jadi berlebih. Gusi yang giginya mau tumbuh itu juga mungkin terasa gatel, jadi Abi maunya gigit-gigit sesuatu dan semua benda dimasukan ke mulutnya. Jadi, aku sering kasih dia teether.

abi teeth 2.jpg

Nah, menyiasatinya aku lakukan 2 hal kalau Abi nangis terus :

1.) Menyusui : kegiatan menyusui itu ternyata bisa menenangkan bayi. Bayi bisa ngerasain kehangatan ibunya. Setidaknya, mampu meredakan kegelisahan bayi karena kondisi yang nggak nyaman.

2.) Skin to Skin : ini adalah salah satu cara yang aku gunain untuk menenangkan Abi. Skin to skin itu kondisi dimana kulit Ibu dan kulit bayi bersentuhan. Lebih bagus kalau Ibu dan bayi sama-sama tidak mengenakan baju atau baju yang super tipis. Biasanya aku letakkan Abi di dada dan aku dekap dia. Dia akan merasakan dekapan hangat ibunya.

Menjelang usia 6 bulan, gigi Abi benar-benar udah keliatan keluar.

abi teeth

Nah, mulai belajar gigit-gigit nih. Semua yang masuk ke mulutnya berusaha dia gigit. Bahkan, saat direct breastfeeding denganku dia mulai menggigit putingku. Padahal, selama ini Abi nggak pernah menggigit putingku loh.

Sesakit apapun Abi menggigit putingku, aku nggak boleh teriak karena aku nggak mau Abi berpikir bahwa tindakannya menyakiti aku dan akhirnya dia nggak mau menyusu langsung. Menyiasatinya, kalau Abi sudah mulai menggigit aku akan mengajaknya bicara, “Eh anak pinter Ibu miminya yang pinter yuk…” atau “Abi sayang nggak gigit-gigit ya, Nak..” Sambil aku elus-elus kepalanya dan aku ciumin. Dan Abi pun mulai mengerti. Dia sudah mulai jarang menggigit.

Banyak yang bilang sih mungkin aku sering mengonsumsi kalsium, jadi gigi Abi tumbuh lebih cepat. Tapi, kalau menurut aku sih memang perkembangan anak beda-beda aja. Ada yang cepat tumbuh gigi, ada yang cepat bisa jalan, ada yang cepat bisa merangkak dan sebagainya.

Buat aku, perkembangan Abi sekecil apapun selalu menarik untuk diikuti dan selalu membahagiakan 🙂

XOXO,

Icha