Our Breastfeeding Journey : Menyapih

Idul Fitri baru aja berlalu, Ibu Icha, Baba Ary, dan Abidzar mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir batin semuanyaaa…πŸ’—

Kali ini, kami mau membagi cerita seputar menyapih. 

InsyaAllah, Agustus mendatang, Abidzar akan menginjak usia 2 tahun. Di usia tersebut, dia harus menghentikan sebuah kebiasaan yang pastinya akan sangat sulit, yaitu menyusu langsung pada Ibunya. 

Proses menyapih ini, sebenernya sudah mulai aku coba lakukan beberapa bulan terakhir ini. Soalnya, setelah konsul sama dokter Tiwi di RSIA Bunda, dia concern banget kalau menyapih itu butuh proses, nggak bisa instan. Memulainya dengan mulai mengurangi intensitas menyusui dari yang tadinya dia dikit-dikit nyusu (semenjak menuju 2 taun dia tiap nangis dan mau tidur kudu nyusu), nyusunya hanya boleh malem aja. Awal-awal sih pasti ngamuk banget dia. Tapi, memang nggak boleh terus-terusan diturutin karena kalo kita terus turutin dia akan berpikir besok kalo mau nyusu ya nangis heboh aja pasti dikasih Ibu. 

Udah beberapa bulan ini Abi nggak minta nyusu di pagi, siang, sore. Aku kasih dia kesibukan misalnya membaca buku, bermain lego, bermain mobil-mobilan, main bola di luar rumah, pokoknya kegiatan yang bisa mengalihkan dia. Ini lumayan berhasil loh. 

Bahkan, beberapa kali malem pun dia bisa tidur tanpa minta nenen. Tapi, kalo tengah malem atau pagi kebangun pasti nangis minta nyusu.

Sebelum tidur, aku juga selalu bilang sama dia kalau dia sudah semakin besar, sama menyebut teman-temannya yang udh berhenti nyusu. Ternyata itu cukup membantu membuat dia nggak nyusu. Tapi, kalau udah tidur, kayanya di bawah alam bawah sadar dia ngamuk minta susu. 

Semingguan yang lalu, aku memutuskan untuk menyapih karena kami berdua akan menyusul Baba ke Sidoarjo. Aku khawatir kalau menyapih disana akan semakin repot karena kami hanya bertiga, belum lagi kalau suamiku dinas dan aku hanya berdua Abidzar di rumah. Akhirnya, keputusan itu bulat, harus disapih. 

Sayangnya, negosiasi dengan Abi nggak kunjung berhasil. Tengah malem atau pagi saat kebangun dia kekeuh banget mau nenen. Akhirnya, aku mencoba menggunakan cara yang agak berbeda. Maafkan ya Nak, weaning with love-nya tidak berhasil 😦 

Salah satu cara yang diusulkan dokter Tiwi adalah tidur terpisah. Tapi, susah banget. Abi nggak mau tidur tanpa aku. Hiks! Mungkin karena 24jam dia terbiasa sama aku, nggak pernah aku ninggalin dia. 

Akhirnya, cara yang aku pakai adalah coba pakai lipstik dipayudara, ketika Abi ngeliat, dia jadi agak shock dan kaya mau nangis karena ngeliat payudara Ibunya merah-merah. Kasian sih sebenernya, tapi gimana lagi. Terus, aku coba ngetes nih nawarin nenen ke dia, dia langsung bilang, “ndak ndak, Ibu atit…” duhh, kasian kamu Nak….. 

Ini bukan soal tega atau nggak tega sih, ini lebih ke dia udah semakin besar dan saatnya lebih mandiri. Suatu hari dia bakal mengerti, ketika dia besar lalu mungkin menemukan tulisan ini, bahwa dulu Ibunya menyapihnya bukan karena berhenti menyayangi dia. Dia akan tetap merasakan keintiman yang sama dengan saat menyusu, tapi dengan cara yang berbeda.

Saat proses menyapih ini, aku juga mulai mengenalkan dia dengan susu UHT. Aku agak concern nih milih susu UHT-nya. Aku nggak mau susu UHT yang kandungan gulanya tinggi karena berpotensi bikin dia sugar rush. Setelah liat-liat ingredients macem-macem susu UHT di supermarket, pilihan jatuh ke Susu Ultra Mimi yang rasa plain (silakan cek ke supermarket ya, no iklan inii.. hehhee) karena kandungan gulanya nol.

Ternyata mengenalkan dia susu UHT yang plain adalah keputusan tepat. Soalnya, dia jadi nggak begitu suka susu yang ada rasanya. Paling hanya disruput beberapa kali, udah deh.

Semingguan ini disapih, awalnya Abi tidurnya gelisah kebangun sekitar 2 kali, tengah malem sama jelang subuh nangis tapi nggak bisa nyusu, kadang dia mau dikasi air putih, kadang menolak lalu tidur lagi. Tapi, Alhamdulillah beberapa hari ini tidurnya nyaman, bablas sampe pagi tanpa kebangun😁

Cuma memang di dia nempel banget kalau nenen Ibunya sakit. Jadi, pas aku jelasin nenennya udah sembuh pun, dia tetep bilang “atit..atit…”

Anyway, gimana pun caranya, apapun yang udah Buibu lakukan untuk menyapih, semuanya adalah demi kebaikan si kecil. Semoga kita semua sehat selalu yaahhh 😘

Menyusui itu adalah salah satu momen yang sangat indah buat Ibu. 

Saat dimana aku bisa memeluknya, merasakan kulit lembutnya, merasakan tatapan matanya, dan hal-hal membahagiakan lainnya. Tapi, berhenti menyusui, tidak boleh membuat kami kehilangan momen bahagia. Momen bahagia itu bisa dibangun dengan cara lain, main bersama, bersenda gurau, dan hal-hal membahagiakan lainnya….


XOXO,

Icha

Advertisements

Gimana Sih Biar Berhasil Menyusui?

Hai buibuuu…

Postingan aku beberapa minggu lalu, curhatan aku yang geram banget sama seorang seniman yang konon pake ASI buat objek seninya. Keseeeeeel….! Kenapa aku segitu keselnya? Ya karena aku harus ngelewatin perjuangan berat sebelum akhirnya bisa nyusuin Abi sampe sekarang. Makanya, sensi banget pas tau ASI dibuang-buang. Huhu

Nah, kali ini aku mau cerita sedikit tentang perjalanan menyusui yang harus aku lalui. Begitu melahirkan, ASI aku nggak langsung keluar. Tapi, rumah sakit itu support untuk nggak langsung main kasih sufor. Sufor nggak jelek kok, kandungannya pasti sudah sangat dipikirkan matang-matang karena untuk kebutuhan bayi, tapi selagi Tuhan memberikan kesempatan untuk mampu memberikan ASI, aku pikir harus dilakukan semaksimal mungkin. Lagipula, nggak semua bayi bisa cocok dengan sufor, kadang ada bayi yang alergi minum sufor. 

Dulu aku nggak muluk-muluk Buibu, paling nggak 6 bulan ASI eksklusif udah seneng bener. Karena di awal menyusui, aku agak kesulitan buat nyusuin Abi, pake nipple shield lah, Abi bingung puting lah, sampe Abi kesedak dan harus di suction. Cerita lengkapnya ada disini

Perjalanan menyusuiku nggak cuma sampai disitu, aku yang saat itu working mom harus struggle banget untuk tetap menyusui dengan kondisi pekerjaan yang menumpuk dan stress yang cukup tinggi. 

Apa kunci keberhasilan menyusui versi aku?
1. Ibu menyusui harus BAHAGIA!

Sejak menjadi ibu menyusui, aku mencoba selalu menyenangkan diri sendiri. Seperti, makan makanan enak nggak mikirin takut gendut, pumping sambil liat foto Abi, jalan-jalan ke mall kalau mulai suntuk, pergi liburan, sampai pumping sambil ngeliatin online shop lanjut memesannya :p 

2. Support orang sekeliling

Ini yang aku syukuri, dikasih suami, keluarga, sahabat-sahabat yang nggak berenti untuk support aku. Sesungguhnya, salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan menyusui karena kurangnya support dari keluarga. Bentuk support-nya sederhana tapi berarti banget buat aku. Misalnya, suami memenuhi keinginanku makan enak yang lagi aku pengen, keluarga selalu ngajak aku buat refreshing, dan sahabat-sahabat selalu ngajak aku ngerumpi hal-hal seru. Itu menjadi energi positif buat aku.

3. Rajing pumping dan direct breastfeeding

Pumping adalah hal yang nggak boleh terlewatkan. Ketika si bayi nggak nyusu langsung, ibu wajib banget buat pumping. Terlebih, buat working mom yang kudu punya stok ASI. Eh iya, management ASI saat aku bekerja dulu aku tulis disini

Jangan lupa juga buibu, menyuasui bayi secara langsung itu juga perlu banget. Prinsip ASI itu supply-demand. Jadi, ketika ASI disedot bayi, dia akan kembali berproduksi. Nah, kalo bayinya rajin menyedot ASI, otomatis akan terus berproduksi. Kestabilan keluarnya ASI pun akan terjaga.

4. Mengonsumsi makanan sehat

Dulu, aku anti makan sayur. Tapi, setelah hamil dan melahirkan aku berhenti jadi orang egois. Aku mau anakku sehat, aku juga sehat. Aku mau asupan untuk aku dan asupan untuk anakku  melalui ASI terjaga dengan baik. Aku pun mulai mengonsumsi sayur dan rajin makan buah-buahan. Hasilnya, Alhamdulillah ASI aku lancar.

5. Booster ASI

Ada ibu-ibu yang beruntung hanya dengan bahagia, support dari orang terdekat, rajin pumping, rajin nyusuin langsung, dan makan makanan sehat ASI langsung lancar car car… Tapi, ada juga yang harus berusaha mati-matian supaya ASI-nya keluar. Kalau buibu, termasuk yang harus berusaha keras, tandanya usahanya nih yang harus dimaksimalin. Sekarang kan zaman udah modern banget, buibu gampang banget buat akses berbagai informasi. Kita harus aktif banget nih buat cari tau apa aja yang bisa ningkatin produksi ASI. Salah satunya usaha yang dilakukam adalah dengan mengonsumsi booster ASI. Booster ASI ini harus yang aman buat ibu dan bayi. Nah, yang paling aman itu tentu aja yang terbuat dari bahan-bahan herbal dan alami yang nggak ada efek sampingnya. Temenku cerita, bahwa habatusaudah dan fenugreek sangat bagus untuk meningkatkan produksi ASI. Pas banget nih. ASI Booster Tea ternyata mengandung keduanya ditambah dengan bahan herbal alami lainnya. Nah, kalau ada satu booster ASI yang menggabungkan keduanya, kenapa harus mengonsumsinya terpisah, iya kan? Jangan khawatir buibu, ASI Booster Tea ini bener-bener aman karena dibuat dari 100% bahan herbal yang alami.Oiya, meskipun namanya ASI Booster Tea, minuman ini sama sekali nggak mengandung teh loh.

Buat info kontak detailnya, Buibu bisa liat dibawah ini yahhh…

Alhamdulillah, aku mampu juga melewati itu semua. Sekarang Abi berumur hampir 20 bulan. Aku berencana menyapihnya di umur tepat 24 bulan. Semoga aku dapat menyapihnya dengan cinta πŸ™‚ 

Buibu, para pejuang ASI, semangat terus yaaaah! 

XOXO,


Buicha & Abidzar

#JapanTrip : Sulitnya Menyusui di Public Area

Breastfeeding is a mother’s gift to herself, her baby and the earth.

~Pamela K. Wiggins

Kegiatan breastfeeding atau kegiatan menyusui di publik area, lumrah kah bagi kita?

Di Indonesia, menyusui di tempat umum adalah hal yang sangat biasa. Banyak kita temui ibu menyusui anaknya di tempat makan, di mall, bahkan di kendaraan umum dengan atau tanpa penutup.

Ibu-ibu di era modern sekarang ini, terlebih ibu-ibu muda yang baru memiliki anak, sudah semakin mementingkan etika menyusui di tempat umum, yakni dengan menggunakan apron menyusui.

Tulisan aku kali ini, sebenarnya bukan mau membahas apron menyusui sih, tapi mau membahas, betapa susahnya aku menyusui ketika aku travelling ke Jepang. Daaannn… Sedih benerrrr…

Dari awal, adikku sudah mewanti-wanti bahwa orang Jepang tidak ada yang menyusui di tempat umum, mereka pun kurang menerima ada yang menyusui di tempat umum. Kenapa?

Entahlah mengapa, di Jepang menyusui di tempat umum sekalipun menggunakan apron menyusui dianggap hal yang tidak pantas. Memang sih sepanjang perjalanan aku tidak melihat satu bayi pun yang menyusu pada ibunya.

Saat di Osaka, aku sama sekali kesulitan untuk menyusui. Benar-benar kesulitan. Kita tidak boleh menyusui di tempat umum, tapi tidak disediakan nursery room dimana-mana, baik di tempat makan maupun di mall besar. Kalau punΒ  ada tempat untuk bayi hanyalah tempat untuk changing popok, itu pun jadi satu dengan kamar mandi.

Abi kalau sudah mulai mengantuk pasti teriak dan menangis ingin menyusu. Solusinya, aku buru-buru mencari kamar mandi dan terpaksa menyusui disana. Steril kah? Tentu tidak! Di kamar mandi terlalu banyak bakteri bersarang, tapi aku nggak punya pilihan lain. Kalau bukan di kamar mandi, dimana lagi?

Di Kyoto pun sama saja, aku nggak bisa menemukan tempat yang nyaman untuk menyusui. Ketika berkunjung ke kedai Halal Ramen Gion Naritaya di Kyoto, disediakan mushola kecil, aku pun terpaksa menyusui disana karena Abi sudah mengamuk minta menyusu.

IMG_1916
Ini nih mushola di Halal Ramen Gion Naritaya, Kyoto

Kondisi berbeda ketika kami tiba di Tokyo. Di Bandara Haneda, nursery room-nya sangat manusiawi dan layak sekali untuk kegiatan breastfeeding. Bahkan disediakan air panas untuk memanaskan susu atau membuat susu formula. Wahh, nyaman sekali…

IMG_2131

Ketika di Tokyo Disney Sea, nursery room-nya juga sangat nyaman. Bahkan, nursery room terletak di Kids Centre. Disana, selain anak-anak bisa menyusui dengan ibunya, bahkan disediakan kasur-kasur untuk beristirahat. Sayangnya, karena Abi lagi super cranky jadi nggak sempet foto-fotoin deh. Cuma ini yang berhasil terfoto πŸ˜€

 

IMG_1962
Tempat menyusuinya berupa bilik-bilik tertutup bikin nyaman

 

Di sebuah toko baju merk ternama di Kota Tokyo pun, juga disediakan nursery room walaupun dengan setting-an yang sederhana, hanya ruangan yang diisi kursi lalu diberi tirai penutup. Tapi setidaknya, fasilitas menyusui ada.

Layaknya, ketika tidak diperkenankan menyusui di public area, fasilitas nursery room juga disediakan. Bayi kan juga punya hak untuk menyusu πŸ™‚

XOXO,

Icha

BUMIL & BUSUI, Bisa Puasa :D

Hellooo, i’m back!

Beberapa minggu terakhir ini, memang menjadi minggu yang cukup berat untuk aku. Menjelang Idul Fitri, karena mau ngambil cuti agak panjang, kerjaan super menumpuk. Makanya baru sempat muncul lagi πŸ˜›

Btw, selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi semua yang menjalankannya! πŸ™‚

Kalau bulan Ramadhan taun lalu, aku lagi hamil gede 38 weeks, tapi Alhamdulillah dikasih kesempatan buat menjalankan Ibadah puasa. Karena kondisi kehamilan yang cukup baik dan kuat plus agak kelebihan bobot tubuh juga (hiyaaakkkk! :p), Dokter malah menyarankan untuk turut berpuasa. Alhamdulillah lancar dan berhasil melalui dengan baik. Hanya batal 2 hari, itu pun karena terlalu kelelahan setelah senam hamil.

Ini ada beberapa tips dari aku berpuasa saat hamil :

1.) Konsultasikan dulu pada dokter kandungan apakah kondisi kehamilan cukup baik dan kuat untuk berpuasa.

2.) Banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.

3.) Sekalipun berpuasa, asupan makanan tetap tidak boleh berkurang dong karena di dalam rahim ada yang kita perlu berikan asupan makanan juga loh πŸ™‚ Kalau aku sih, makan sahur, makan saat berbuka puasa, lalu makan malam sebelum tidur.

4.) Porsi makannya bukan yang berlebih-lebihan loh, tapi yang terpenting terperhatikan nilai gizinya. Sebaiknya, perbanyak sayur-sayuran dan buah-buahan.

5.) Vitamin yang diberikan dokter jangan sampai terlewatkan.

6.) Sebaiknya, kehamilan muda dan masih sering mabuk tidak perlu memaksakan diri berpuasa karena ditakutkan bisa terjadi dehidrasi. Allah sama sekali tidak mempersulit hamba-Nya. Jadi, kalau pun nggak bisa ikut berpuasa jangan khawatir πŸ™‚

7.) Minum herbalife. Nah, semenjak sebelum hamil sampai sekarang aku masih mengonsumsi herbalife nih. Alhamdulillah pas puasa sama sekali nggak lemas loh.

Nah, di bulan Puasa kali ini, Alhamdulillah lagi karena aku juga diberi kesempatan menikmati nikmatnya berpuasa. Walaupun masih menyusui Abi, setelah berkonsultasi dengan dokter laktasiku, beliau mendukung aku berpuasa. Menurutnya, Abi sudah tidak terlalu banyak minum ASI. Paling dia minum Sore, Malam, dan Pagi hari. Jadi, aku tetap bisa berpuasa. Alhamdulillah :))

Ini beberapa tips yang bisa aku share buat Ibu-ibu menyusui yang ingin berpuasa.

1.) Sebaiknya, Ibu menyusui yang ingin ikut berpuasa bayinya yang sudah berusia diatas 6 months. Karena bayi dibawah 6 months, masih menjadikan ASI sebagai makanan utamanya. Kurangnya asupan saat berpuasa, agak mempengaruhi banyaknya ASI. Sekali lagi, Allah sama sekali tidak mempersulit kok πŸ™‚ Kebutuhan bayi adalah yang utama buibuk! πŸ˜€

2.) Perbanyak air putih. Saat sahur, berbuka, dan malam hari sebelum tidur konsumsi air putih sebanyak-banyaknya. Resikonya memang bolak-balik ke toilet sih :p

3.) Asupan makanan tetap harus terjaga dengan baik. Bukan porsi karbohidratnya berlebihan ya, tapi sayur-sayuran dan buah-buahan yang harus diperbanyak.

4.) Minum herbalife lagih πŸ˜€Β  Asli loh, aku puasanya jadi lebih kuat, nggak lemes, dan nggak ngantukan. Hi hi hi…

Semangat bumil dan busui, KITA PASTI BISA!! πŸ™‚

 

XOXO,

 

Icha

 

 

My First Experience : Donor ASIP

Hai hai..

image

Beberapa saat yang lalu aku sempet posting kalau aku mau mendonorkan ASIP-ku yang telah aku tabung beberapa bulan terakhir ini. Aku merasa freezer ASI milik Abi semakin penuh dan rasanya nggak mungkin Abi minum semuanya. Mau dibuang? Rasanya sangat sayang, karena ada perjuangan di setiap tetesnya dan aku yakin ada bayi-bayi diluar sana yang membutuhkannya.

Aku baru kepikiran soal donor ASI ini setelah merasa udah nggak ada lagi space untuk meletakan ASIP di freezer. Bahkan, ada sekitar 20kantong lebih (kalau ditotal sekitar 2000ml) yang sudah hampir 6 bulan. Aku terpaksa membuangnya.  Sedih dan menyesal rasanya 😦

Setelah berkonsultasi dengan dokter Utami Roesli yang merupakan konselor laktasi aku dan Abi, beliau pun mendorong aku untuk melakukan donor ASI. Aku pun memutuskan untuk menyebarkannya melalui media sosial instagram dan meninggalkan kontakku disana dengan harapan ibu yang bayi-bayinya membutuhkan ASI dapat menghubungiku. Dokter Utami juga membantuku memberi informasi ke pasiennya yang membutuhkan.

Nggak butuh waktu lama, aku menerima banyak line dari ibu-ibu yang membutuhkan. Ada juga ibu yang bayinya merupakan pasien dokter Utami menghubungiku.

Seperti yang pernah aku bilang, ASI-ku bukan yang melimpah yang bisa sampai beratus-ratus mili sekali pumping ataupun stoknya bisa berkulkas-kulkas. Aku mendapatkan stok banyak hasil menabung, itu lah sebabnya aku bilang setiap tetes hasil perjuangan. Kadang banyak kadang sedikit.

Aku hanya menentukan syarat bahwa yang bisa menerima donorku ini adalah bayi laki-laki. Sebab, menurut agamaku yakni Islam, ketika aku menyusui atau memberi susu kepada seorang bayi tandanya bayi tersebut akan menjadi saudara sepersusuan dan haram bila saudara sepersusuan itu menikah. Karena mereka telah menjadi saudara layaknya saudara kandung. Aku jadi nambah anak nih he he he…

Aku memberi donor ke 5 orang bayi :
-bayi usia 15 hari yang sedang dirawat karena sakit batuk
-bayi usia 11 bulan
-bayi usia 2,5 bulan
-bayi usia 8 bulan
-bayi usia 5 bulan

Semuanya laki-laki. Dan ibu mereka memiliki alasan masing-masing mengapa bayi mereka membutuhkan donor. Mereka juga dari berbagai agama yang berbeda. Meskipun aku muslim, aku nggak saklek harus ngasih donor ke bayi yang seagama denganku. Menolong sesama kan tidak harus melihat latar belakannya karena niatku tulus ingin membantu.

Bagiku ibu-ibu dari bayi ini ibu yang sangat luar biasa. Tidak ada yang salah dengan ibu yang meminta donor ASI. Bagiku mereka malaikat yang berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang begitu mereka cintai.

Aku pernah membaca sebuah tulisan, ada seorang Ibu yang sangat sedih dia di judge buruk karena memberi sufor untuk anaknya. Dia hanya bisa memberi ASI beberapa bulan untuk anaknya, tentu itu bukan kemauan dia. Ketika ASI-nya udah nggak keluar lalu dia harus bagaimana? Anaknya tetap harus dapat nutrisi yang terbaik kan? Berhentilah berpikir sempit dengan judge-judge yang menyakiti hati seorang ibu. Semua ibu butuh support hal-hal yang baik.

Tak ada yang salah dengan ibu yang memberi ASI dengan memompanya lalu memberikannya melalui botol, sendok, atau cup feeder.
Tak ada yang salah dengan ibu yang memberi sufor untuk bayinya.
Tak ada yang salah dengan ibu yang memberikan ASI lalu sufor karena bayinya butuh asupan banyak.
Tak ada yang salah dengan ibu yang mendonorkan ASI-nya untuk bayi lain.
Tak ada yang salah dengan ibu yang membutuhkan donor ASI untuk bayinya.

Yang salah adalah judge-judge negatif yang membuat ibu menjadi sedih dan down 😦

Saat ini, aku sedang menabung lagi. Insya Allah kalau Allah memberi rezeki lagi untuk aku dan Abi, kami mau membantu orang lain lagi.

image

Ketika nanti Abi sudah mulai mengerti, aku akan menceritakan padanya, bahwa sejak kecil Abi belajar berbagi, berbagi susu miliknya untuk saudara-saudara yang membutuhkan.

Semua ibu pasti akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Semangat untuk semua mommy dimanapun berada! :))

XOXO,

Icha

[REVIEW] Avent Comfort Single Electric Breastpump

Kali ini aku mau review salah satu sahabat setiaku selama 6 bulan terakhir ini, Avent Comfort Single Electric. Yups, aku bakal ngebahas breastpump yang selalu menemani kegiatan pumping aku, hi hi hi…

20151216_144030

Pas hamil smester akhir, breastpump memang belum jadi prioritas barang yang aku beli untuk persiapan kelahiran si baby. Sampai akhirnya pas lahiran, aku mulai kepikiran buat punya breastpump. Soalnya nih, memerah menggunakan tangan lumayan melelahkan ya 😦

Di RSIA tempat aku lahiran, dipinjemin pompa elektrik merk Medela. Buat aku pribadi sih, Medela ini memang cukup banyak memerahnya, tapi agak sakit sih buat aku. Payudara aku jadi agak perih gitu. Cocok-cocokan kali yaaa… Toh, banyak juga teman-teman aku yang cocok pake Medela.

Aku pun mulai cek-cek breastpump merk lain. Nah, beruntung sahabat suamiku ada yang menghadiahi kami breastpump Avent Philips yang manual. Awal-awal sih, masih oke-oke aja pumping pakai manual, soalnya kan waktu itu susu yang keluar belum terlalu banyak.

Tapi, lama kelamaan aku berpikir sepertinya butuh juga yang elektrik. Sebab, selain efisien waktu bisa efisien tenaga juga. Biar bisa pumping sambil kerja di depan laptop atau sambil main handphone *lah

Awalnya, aku liat review blogger Andra Alodita yang menggunakan breastpump electric Avent Philips. Nah, aku coba cek-cek review di tempat lain, sejauh ini reviewnya positif sih. Buat aku sih yang terpenting breastpump ini nyaman digunakan karena kan digunakan untuk payudara, kalau sakit kan nyiksa banget.

Akhirnya, Tanpa pikir panjang Babanya Abi langsung menjatuhkan pilihan ke Avent Comfort Single Electric. Kenapa yang single bukan yang double? Karena harganya sihhh he he he…*jujur banget.Yang single aja harganya udah Rp. 1.9xx.xxx, lumayan booookk..

Begitu barangnya tiba, langsung di-trial dan memang nyaman ibu-ibu! Aku cucok dehh… Ini beberapa kelebihan breastpump ini menurut aku :

  1. Cupnya dilapisi karet yang lembut dan elastis gitu supaya payudara ibu nyaman. Udah gitu, saat menyedot sama sekali nggak sakit lho.
  2. Cara kerjanya ada dua tahapan. Pertama, saat dinyalakan ada mode untuk massage payudara, mode ini bertujuan menstimulasi payudara agar air susunya mengalir.Kedua, mode untuk penyedotan, di mode ini ada 3 jenis kekuatannya mau sangat pelan, sedang, hingga agak kencang. Buat aku sih, yang agak kencang pun  tidak menyakiti payudara alias nyaman banget.
  3. Bagian-bagian alat pumping ini (terutama bagian botolnya) bisa dilepas, jadi mudah banget kalau mau dicuci.
  4. Breastpump ini ringan banget, jadi nggak ngerepotin kalau mau bawa kemana-mana.
  5. Nggak cuma pakai listrik, breastpump ini juga bisa menggunakan baterai A4 sebanyak 4 buah. Jadi, kalau nggak nemuin aliran listrik, kita masih dapat pumping deh.

Cuma kelemahannya nih dibagian kepala botolnya ada karet yang fungsinya untuk memberikan tekanan untuk menyedot dari payudara ke botol, namanya Valve Natural. Kalau mencucinya nggak hati-hati bisa sobek nih. Kalau Valve Natural ini sobek, udah pasti nggak ada power buat nyedot. Aku udah pernah nih, untung spare part ini mudah ditemukan, jadi begitu sobek bisa langsung diganti.

Buat moms yang mau trial dulu, sekarang banyak sih rental-rental breastpump gitu. Kalau aku sih memang niat beli baru karena buat investasi sekalian sampai nanti adik-adiknya Abi. he he he

Selamat memilih breastpump moms! πŸ™‚

XOXO,

Icha

Persiapan Stok ASI Sebelum Kembali Bekerja