STOP Event yang Menyakiti Para Ibu!

Hai Buibu.. 

Beberapa hari ini, dunia socmed lagi cukup dihebohkan dengan sebuah event bertajuk #makanmayit yang dibuat oleh seorang seniman bernama Natasha Tontey (@roodkapje). 

Dia menyebut menggunakan ASI sebagai bahan pembuatan keju yang menjadi suguhan para tamu. Terus terang cukup shock mendengarnya. Kalau memang itu benar, kok tega ya? Diluar sana banyak sekali bayi-bayi yang begitu membutuhkan ASI untuk menyambung hidup, ini dengan gampangnya dia menggunakannya untuk hal yang cukup ‘nyeleneh’ kaya gitu. Tahukah dia mengumpulkan ASI, jatuh bangun, nangis, belum lagi kalau kena mastitis, ASI seret, kejar-kejaran stok, itu sangat-sangatlah berat dan menyakitkan? Mungkin dia nggak tau rasanya karena dia belum ngerasain ya!

 Kalau itu tidak benar, ASI hanya sebagai komoditi untuk menjual event yang katanya ‘nyeni’, buat saya ini sama sekali tidak lucu. Dia sempat menyebut mendapat ASI dari sebuah asosiasi menyusui Jogja, dimana asosiasi tersebut sangat dihormati para pejuang ASI. Berpikir panjang kah dia, bahwa dia akan membuat nama baik asosiasi tersebut jelek, orang akan berpikir, masa asosiasi menyusui men-support hal-hal seperti itu? Untungnya asosiasi tersebut bertindak cepat dan meminta dia melakukan klarifikasi. Dia pun mengklarifikasi dan menyatakan bahwa ia mendapatkan ASI dari temannya. Jadi, menggunakan ASI itu benar? Sangat menyakiti ibu-ibu pejuang ASI. Terlebih, saya ini adalah pendonor ASI, di mana saya berjuang keras untuk bisa membuat anak-anak susu saya tumbuh sehat dengan ASI yang saya berikan. Makin sedih 😦 Muncul pertanyaan, si pemberi ASI ini tahu kah bahwa ASI nya digunakan untuk hal-hal semacam ini. Kalau tidak tau, kok kasian banget ya, jerih payahnya jadi seolah nggak ada artinya. Kalau dia tahu, kenapa dia mau? 

Kemirisan nggak cuma sampai disitu, penyajian-penyajian hidangan menampilkan boneka bayi yg dipotong-potong dan digunakan sebagai wadah, dessert yang katanya adalah pudding bentuknya menyerupai bayi sedang menungging, makanan yg bentuknya seperti organ otak, dan minuman yang disebut anggur darah suci, keren kah hal seperti itu? Sekalipun hanya boneka bayi-bayian dan semua yang dibentuk menyerupai bayi/otak bagi saya itu sangat menakutkan. 

Pernahkah terpikir oleh dia, ada ibu-ibu yang sedang hamil, sedang menanti diberi kepercayaan seorang bayi, sedang menyusui bayinya, baru kehilangan bayinya, akan sangat tersakiti dengan event yang dia buat? 

Ini mungkin yang dia harapkan, ramai dibicarakan, eventnya menjadi booming, karya seninya terangkat. Tapi, apakah hal yang dia sebut sebagai seni harus sebegininya? Saya sempat meminta pendapat sahabat saya yang merupakan lulusan sebuah kampus seni yang cukup terkenal, dia saja tidak sampai hati untuk melihat foto-fotonya. 

Katakan lah saya memang nggak punya dasar apa-apa soal seni. Tapi, buat saya alasan dia ingin menggambarkan konsep kanibal di event-nya ini tidak masuk dalam logika saya.

Saya pun tidak sampai hati membagi foto-fotonya. Melihat beberapa fotonya saja membuat saya sangat marah dan sedih.Event ini cukup menyakiti saya, terutama sebagai ibu yang sedang menyusui. Jadi curhat disini deh 😦
XOXO,

Icha

Jadi Ibu Rumah Tangga, Nggak Masalah! :)

Hai All….

Bulan ini sangat nggak produktif nulis nih karena lumayan sibuk ngurus Abi. He he he…

Finally, setelah pemikiran yang puanjaaanggg…. Diskusi sama suami dengan pertimbangan ini itu, aku berhasil membuat sebuah keputusan besar, RESIGN dari kantor. Ini bukan hal yang mudah buat aku, soalnya dari awal bahkan sebelum lulus kuliah, aku udah terbiasa kerja. Keputusan ini aku buat karena berbagai pertimbangan. Pertama, kondisi kantor  dengan lingkungan yang lebih sering justru bikin aku stress, pekerjaan yang menumpuk nggak kelar-kelar bahkan sampai akhir pekan, waktu buat Abi yang semakin sedikit karena di rumah pun tetap harus kerja, dan ini poin yang paling utama nih, nggak terlalu percaya ngasih ke ncus-nya Abi untuk megang Abi.

Abi kan udah semakin gede, dia udah semakin ngerti, diajarin sekali bisa cepat nangkep, bahaya banget kalau membiarkan dia di tangan orang lain yang aku nggak yakin bisa bikin dia makin berkembang. Sebenernya sih lebih kepada setiap orang tua kan punya pola pengasuhan sendiri buat anak-anaknya, aku maunya si ncus mengikuti apa yang aku sudah atur, tapi kenyataannya dia sering  membantah dan nggak mau dengerin aku. Hmmmm, mungkin dia ngerasa aku baru anak kemarin sore, sedangkan dia udah sangat berpengalaman.

Misalnya gini, aku concern banget terhadap sebuah β€œkebiasaan”. Aku mau Abi tau bahwa makan itu harus duduk di kursinya. Kalau neneknya Abi di rumah sih, sesekali didudukin, tapi kalau nggak Abi makan sambil digendong-gendong. Efeknya adalah saat aku dirumah dan mendudukan Abi di kursi makannya, Abi seringkali nggak mau makan. Begitu digendong baru mau makan. Saat aku bilang ke dia kenapa nggak didudukan, dia selalu bilang biar cepat dan biar nggak berantakan. Heiiii, aku lebih pilih berantakan sih, supaya Abi belajar proses makan seperti apa dan bagaimana.

Hal lainnya, Abi jarang banget dibiarkan bermain di karpet  kamar atau di lantai. Dia lebih senang menggendong terus-menerus.  Padahal, menurut aku usia jelang setaun kemarin itu adalah waktunya anak mengeksplor apa yang ada di sekitarnya. Aku senang melihat Abi merangkak kesana kemari, lalu memegang segala macem. Apa sih yang ditakutin? Takut kotor? Bisa dibersihkan. Takut jatuh? Bisa diawasi. Takut pegang segala macam? Bisa diberitahu lalu dialihkan yang lain. Apalagi yang ditakutkan?

Banyak hal-hal lain yang aku nggak sepaham dan ujung-ujungnya bikin aku gondok sendiri. Di β€œgolden age” Abi ini, aku ingin dia menjadi anak yang tumbuh dengan baik, mampu mengeksplor segala hal, tahu segala hal, dan menjadi lebih baik segala-galanya. Makanya akhir Juli lalu  aku putuskan, aku sendiri yang akan melakukan yang terbaik untuk Abi. Pertengahan Agustus kemarin, aku pulangkan ncus-nya Abi ke yayasannya. 

Ternyata, menjadi ibu rumah tangga sangat menyenangkan. Kalau sebelumnya, banyak hal yang aku harus lewatkan karena sebagian besar waktuku habis di kantor dan jalanan yang macet, kini waktuku habis untuk bersama Abi. Alhamdulillah, nggak ada satu momen pun yang terlewatkan. Melihatnya bisa berjalan, melihatnya kesana-kemari, melihatnya sudah mulai mengerti yang kita lakukan, bahkan melihatnya susah makan sekalipun menjadi momen-momen yang begitu berharga.

Memang sih, aku nggak bisa bilang jadi ibu rumah tangga itu gancil. He he he… Kaya misalnya, aku nggak biasa ke dapur, lalu harus nyiapin makanan buat Abi. Atau, Abi yang benar-benar nggak bisa ditinggal karena nggak bisa diem, kalau nggak ada orang di rumah, aku nggak bisa melakukan hal lain seharian. Tapi, itu bukan sebuah kendala yang berarti lah kalau bisa 24 jam bareng Abi. Itu lah bagusnya, aku jadi belajar untuk semakin menjadi ibu yang baik untuk Abi, kan?

Mungkin kalau berpikir pundi-pundi jadi berkurang,  ya memang iya. Tapi ternyata, Allah sudah menyiapkan rezeki yang lain. Sekarang ini aku nggak benar-benar nggak kerja. Kalau Abi lagi tidur aku bisa mengerjakan beberapa pekerjaan freelance-ku atau menulis blog.

Buat mommy-mommy yang mau memutuskan ingin berhenti bekerja, nggak perlu merasa khawatir. Hidup kita memang akan jauh berubah, tapi kebahagiaannya sama sekali nggak ternilai πŸ™‚
Buat mommy-mommy yang masih tetap bekerja pun, nggak masalah. Kita yang paling tau yang terbaik buat diri kita, anak kita, dan keluarga kita. Jadi, just do it!

Bahagianya Ibu dapat melihat perkembanganmu dari hari ke hari. I Love You, Abidzar 😘

XOXO,

Icha

READING is FUN :)

Belajar membaca sedari dini?  Pasti ada yang comment “ahh emang perlu?” atau “ahh emang udah bisa?” atau “”jangan maksain dong kan kasian masih kecil!”

Eiiittss, tunggu dulu.. Mungkin mommy-mommy harus mampir ke tempat yang satu ini. Namanya, Reading is Fun. Tempat apa sih itu? Sesuai dengan namanya, di tempat ini anak-anak kita akan diajarkan untuk menyukai kegiatan membaca dan belajar membaca dengan cara yang sangat fun.

Weekend kemarin, weekend yang benar-benar produktif nih karena Abidzar  mendapat kesempatan untuk mengikuti trial class yang tentu saja untuk anak yang seusianya. Sekali lagi mom, TANPA PAKSAAN πŸ˜€

Begitu masuk ke tempat ini, kita akan melihat banyak sekali buku untuk anak-anak. Dekorasinya juga khas anak-anak dengan banyak mainan. Menarik  dan nyaman sekali untuk anak-anak.

Sejujurnya, selama ini aku jarang sekali mengenalkan buku pada Abi karena pada dasarnya aku sendiri kurang suka membaca. Hmmmm, salah nih aku. Harusnya, budaya membaca buku itu dimulai sedari dini. Sebelum trial class dimulai, aku ajak Abi membaca buku dulu. Ternyata, Abi cukup tertarik dengan buku loh.

Nah, mulai deh trial class-nya. Dalam class trial tersebut Abi hanya berdua dengan bayi yang berusia 15 bulan. Karena masih trial dan tahapan awal banget, anak-anak boleh ditemani. Orang tua bisa sekaligus melihat seperti apa kondisi di dalam kelas dan metode pengajarannya.

Semua materi disampaikan dalam bahasa Inggris yang menurut aku memang sangat penting di era globalisasi sekarang ini *tsaaahh

Kelas dibuka dengan perkenalan dan nyanyi-nyanyi lagu anak-anak berbahasa Inggris. Anak-anak juga sambil memegang alat musik seperti gendang dan bel. Lagu-lagunya pun nggak asing sih karena dirumah aku juga sering mengajarkan lagu anak-anak berbahasa Inggris kaya “Wheels on The Bus” atau “If You’re Happy”. Jadi, begitu Abi mendengar lagu tersebut dinyanyikan, Abi senyum-senyum, hi hi hi..

Liat videonya disini yuk, biar bisa liat suasana di kelasnya πŸ˜€

Sesi selanjutnya, anak-anak mulai dikenalkan dengan tulisan namanya, tulisan nama hari, tulisan tanggal, tulisan nama bulan, tulisan tahun, dan tulisan keadaan cuaca. Kalau aku bilang sih ini menstimulasi anak untuk mendengar, melihat lalu pada akhirnya berbicara. Diusia Abi yang menginjak 10 bulan ini, Abi sudah mulai merespon apa yang kita bicarakan, makanya stimulasi  untuk belajar membaca seperti ini sangat penting. Dia juga sudah mulai meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Misalnya, kakeknya sering sekali minum di depan dia, lalu bersuara “ahhh…”, Abi pun mulai menirunya. Setelah minum, Abi sering bersuara “ahhh..”, lucunyaa… Makanya, mengajarkan hal-hal untuk mencintai budaya membaca seperti yang dilakukan di Reading is Fun sangat perlu.

Sesi selanjutnya, anak-anak diajarkan satu demi satu kata dengan sebuah card bertuliskan kata tersebut. Misalnya, kata “CLAP”. Ada 3 buah card yang ditunjukan pada anak-anak. Card pertama adalah card yang hanya bertuliskan “CLAP”. Card kedua adalah card yang disampingnya bisa ditarik lalu muncul sebuah gambar orang yang sedang tepuk tangan. Card ketiga adalah card yang begitu dibuka ada beberapa orang yang sedang bertepuk tangan. Lalu dicontohkan “CLAP” itu seperti apa. Beberapa kata lain seperti “ARMS”, “ARMS UP”lawannya “ARMS DOWN”. Selain card itu dibaca, anak-anak juga harus mencontohkan gerakannya.

Lalu diajarkan juga mengenal berbagai warna yang tentunya diberikan contoh warna lalu disebutkan warna apa dan tulisannya. Pengajar yang disapa “Miss” juga menyampaikan materi dan mengajak bernyanyi sambil bersemangat.

Simak lagi videonya yuk..

Ada 4 jenis kelas yang ditawarkan di Reading is Fun. Kelas-kelas ini dibagi berdasarkan usia anak dan ditujukan untuk anak usia 6 bulan hingga 9 tahun.

  • Your Baby Can Read – Playgroup (6-18 bulan)
  • Your Baby Can Read – Nursery (18 bulan-3 tahun)
  • Your Child Can Read (3-5 tahun)
  • Reading Rocket Book Club (4-6 tahun dan 7-9 tahun)

Setelah mengikuti kelas ini, bahkan katanya ada anak 1 tahun sudah bisa baca loh. Wahhh, super keren!

Oiya, nggak harus ikutan kelas kok, kalau hanya sekadar ingin mengajak anak-anak membaca boleh juga karena memang tersedia koleksi buku anak-anak yang cukup banyak.

Namanya anak-anak, pasti ada kalanya mereka boring dan ogah buat nyimak materi atau nggak mau belajar. Itu hal yang lumrah kok Mom. Tugas kita adalah memberi yang terbaik untuk anak tercinta πŸ˜€

Kalau mau tau info lengkap tentang Reading is Fun, bisa langsung dateng ke :

Jl. Kerinci III No. 9, Kebayoran, Jaksel

Ph. 021-7221584

Atau bisa cek instagram mereka di @babycanlearn atau @readingisfun_jakarta

Semoga bermanfaat Mommy! πŸ™‚

 

XOXO,

Icha

Toilet Training Sedari Dini

Hello….

Seneng banget deh, tanggal 2 Maret kemarin Abi tepat 7 bulan… Nggak berasa, waktu berjalan sangat sangat cepet.

Di usia 7 bulan ini, Abi udah makin pinter. Ekspresi emosional di diri dia udah mulai muncul kaya marah, kesel, ceria, ketawa girang, dan ekspresi-ekspresi lainnya. Uuuuhh, lucuk banget!

Makanya, aku mau mulai ngajarin kebiasaan baik nih ke dia, yaitu TOILET TRAINING. Apa sih toilet training itu dan gimana sih cara melakukannya? Aku sharing sedikit ya πŸ™‚

Jadi, toilet training itu mengajarkan anak kita untuk Buang Air Besar (BAB) atau Buang Air Kecil (BAK) di toilet, bukan di pampersnya. Kalau untuk anak seusia Abi sih, BAK masih di pampers lah ya, soalnya kan BAK-nya cukup sering dan nggak ada tanda yang spesifik kalau mau BAK hihihi..

Awal mulanya nih, diumur Abi ke 6 bulan lebih, neneknya Abi iseng ngedudukin Abi di closet pas Abi lagi ngeden, dannnn… Sukses lho! Abi berhasil BAB di closet.

Setelah itu, aku langsung membeli soft potty seat buat Abi. Kaya gini nihh :

image
Maap yaa di-sensor hi hi hi…

Aku memilih nggak menggunakan potty training. Soalnya, agak rempong kalau harus ngebersihin potty training setiap kali Abi BAB. Nah, kalau soft potty seat ini kan jauh lebih praktis dan mudah membersihkannya.

Berikut-berikutnya, setiap Abi mulai ngeden, aku langsung angkut dia ke toilet dan Alhamdulillahnya selalu sukses. Happy berat πŸ˜€

Ini udah hampir 2 minggu Abi toilet training, anaknya malah kaya lebih plong gitu kalau BAB di closet ha ha ha… Sejauh ini sih, dia jarang banget BAB di pampers.

Lucunya, Abi itu kaya udah punya alarm sendiri. Jam biologisnya udah kaya kita yang orang dewasa. Dia bakal bangun jam 5 atau stngah 6 pagi dan langsung pasang ancang-ancang buat ngeden. Langsung deh cussss ke toilet. Jadi, pagi-pagi perutnya udah kosong dan siap nerima makanan lagi deh.

Saat Abi sedang duduk di closet aku selalu memberitahu dia kalau mau BAB dan BAK itu memang harus dilakukan di closet. Aku memang secara rutin mendudukan dia di closet walaupun dia sedang belum ingin BAB. Nggak lupa aku puji-puji dia meskipun dia nggak BAB di closet.

Mungkin bakal banyak yang komen “Aduh kasian Abi ah, masih kekecilan.” Disini yang perlu di-note aku nggak pernah maksain Abi harus BAB di toilet. Aku hanya memberitahu dia bahwa BAB itu di toilet, selanjutnya aku berusaha membiasakan dia untuk BAB di toilet. Harapannya sih jika dia udah bisa ngomong dia akan terbiasa meminta ke toilet kalau mau BAB maupun BAK πŸ˜€

Bukannya membiasakan hal baik perlu dimulai sedari dini? :))

image
Dan ini Abi dengan muka kocaknya πŸ™‚

Buat mommy yang mau mencoba toilet training buat baby kesayangannya, good luck! Pasti kita bisa mengajarkan hal baik sedari anak kita masih sangat kecil…

XOXO

Icha

Quality Time with Child :)

Anak tinggal kepisah sama bapaknya? Siapa bilang nggak bisa deket. Working mom? Siapa bilang nggak bisa deket sama anak.

LDR atau Long Distance Relationship, ehh Long Distance Marriage deng sekarang, siapa yang pernah atau sedang mengalami? Ayo tunjuk jari! Kalau gitu tos dulu sama aku πŸ˜€

Dari pacaran sama Babanya Abi sampai akhirnya menikah dan sekarang punya Abi, aku nyaris nggak pernah tinggal satu kota. Pas pacaran sempet satu kota waktu kami sama-sama di Jatinangor, itu pun suamiku yang satu tahun di atasku udah di penghujung kelulusannya.

Begitu lulus dan kerja pun, suamiku pun harus bekerja berpindah-pindah kota. Sampai hari ini pun, aku dan Abi nggak tinggal sekota sama Babanya Abi. Tuntutan pekerjaan membuat suamiku harus menetap di Batam, sedangkan aku dan Abi tetap stay di Jakarta. Suamiku pulang sebulan sekali.

Banyak yang nanya kenapa sih nggak ikut? Aku dan Abi bukannya nggak mau ikut. Setelah menikah, aku baru banget pindah kantor. Nggak mungkin resign secepat itu. Lalu, aku dinyatakan hamil yang nggak mungkin menetap berdua saja di kota lain karena suamiku sibuk banget.

Begitu Abi lahir, nggak segitu mudahnya langsung memindahkan Abi ke kota yang asing buatku apalagi buat Abi. Aku lebih memikirkan dokter di kota yang baru apakah sama bagusnya dengan dokter Abi sekarang. Lalu, bagaimana dengan lingkungannya? Apakah baik untuk anak bayi? Suamiku sibuk banget disana, lalu apa aktifitas yang bisa kami lakukan disana? Tempat tinggal suamiku sekarang juga belum terlalu nyaman untuk bayi. Ahh, masih terlalu banyak pertimbangannya.

Selain itu, Abi itu cucu pertama dari pihakku maupun suamiku, kebayang nggak kalau Abi pindah lalu jarang pulang, kasian banget nih para kakek dan neneknya Abi pasti bakal kehilangan 😦

Tapi, belakangan ini mulai kepikiran lagi. Abi sudah semakin gede, semakin pinter, dan semakin mengerti dengan apa yang ada di sekelilingnya. Bisa jadi, Abi merasakan kangen ketemu Babanya. Babanya pun begitu, cuma bisa minta dikirimin foto dan video Abi tiap hari.

Januari lalu, saat Babanya pulang, Abi menangis kejer saat Babanya menyapa. Mungkin dia merasa nggak biasa dengan Babanya karena nggak ketemu tiap hari kan. Butuh waktu untuk Abi sampai akhirnya Abi mulai melunak dan dia mulai mau attach sama Babanya. Mau bobo sama Baba, gendong sama Baba, main sama Baba. Bahkan, Abi cenderung somse kalo lagi sama Baba. Ibu jadi nggak laku, lakunya kalau mau mimik aja he he he..

Karena aku mulai membiasakan, kalau Babanya nggak ada dirumah, aku selalu kasi liat foto Babanya dan aku bilang ke Abi, “Ini Baba Abi,Baba lagi kerja cari uang Nak,”.

Terus, sesekali kami sempatkan buat video call. Misalnya Abi lagi ngoceh-ngoceh, begitu video call dan dia liat wajah Babanya dia langsung bengong ngeliatin wajah Babanya yang ada di handphone. Aku jadi antara gemes sama agak-agak mellow gituuu πŸ˜€

Nah makin kesini, sepertinya Abi udah mulai bisa memahami kalau Babanya jarang ada di rumah. Dia udah nggak nangis lagi kalo Babanya pulang dan menyapa dia.

Menurutku, itu juga ada peran suamiku sih, dia berusaha banget attach sama Abi kalau pas lagi pulang. Bahkan, dia mau mandiin Abi lohh he he.. Iyaps, supaya Abi tetap lengket sama Babanya walaupun berjauhan adalah setiap pulang Babanya harus banyak interaksi sama Abi dan ikut ngurusin Abi. Bahkan nih, aku suka ngelarang Baba pegang handphone kalau Abi belum bobo. Hi hi hi…

Sama aja kaya pakai baby sitter. Kalau kitanya sibuk sendiri dan jarang attach sama anak kita sekalipun ketemu tiap hari, otomatis anak kita jadi “anak ncus”. Anak itu pinter banget, dia bisa ngerasa mana yang bisa selalu ada buat dia.

Sebagai working mom, aku sadar banget waktu buat Abi jadi nggak terlalu banyak. Aku kerja senin sampai jumat dan berangkat pagi pulang sore. Untungnya sabtu minggu libur, jadi waktu itu deh aku gunakan sebaik-baiknya supaya bisa quality time sama Abi.

Untuk menebus waktu yang hilang itu, setiap udah sampai rumah dan bersih-bersih aku pasti langsung main sama Abi sampai nidurin dia hingga tertidur pulas. Sabtu minggu aku waktu aku pure banget buat Abi. Si ncus bisa istirahat deh πŸ™‚

Sabtu atau minggu biasanya aku ajak Abi jalan-jalan soalnya dia happy berat kalau jalan-jalan, liat mobil-mobil, terus berada di keramaian. Biasanya aku ajak dia ke mall, ke supermarket atau ke tempat uyutnya. Pokoknya sabtu minggu Abi pasti nempel sama aku.

Alhamdulillahnya, Abi tetep nempel tuh sama aku. Nggak apa-apa ncus. Banyak lho yang saking nempelnya sama ncus mau bobo harus sama ncus, maunya digendong ncus, bergantung banget sama ncus. Abi sih selalu mau bobo sama aku, kadang nggak perlu digendong-gendong bobo sendiri. Ahhh, pinter dan baik deh anakku, happy deh!

Anak itu gimana kita ngarahinnya aja. Anak itu selama belum dewasa masih bisa kita handle dan kita arahkan kok. Kita bisa membiasakan hal-hal baik untuk anak kita sedini mungkin, syaratnya utamanya ya itu, kitanya harus bener-bener deket sama dia. Dengan kedekatan itu, penghargaan yang dia berikan terhadap kita akan sangat besar. Penghargaan yang besar itu akan bikin dia sangat berhati-hati dalam bertindak supaya nggak mengecewakan orang tuanya.

Intinya, yang selalu kami yakini kalau sekarang ini kami belom bisa mendapatkan kuantitas pertemuan yang sering, kualitas pertemuannya harus benar-benar baik πŸ™‚

Dan aku akan terus belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik setiap harinya:) Happy parenting life!

XOXO

Icha