Dear Abidzar… (vol. 2)

Dear Abidzar…

Hari ini, Allah memberikan lagi sebuah kebahagiaan untuk Ibu, melihat Abi meniup lilin ulang tahun yang kedua. Jangan tanya rasanya, senang, terharu, semua bercampur aduk. Ibu nggak pernah menyangka Abidzar-ku cepat sekali besarnya.

Tahun lalu, Ibu memberikan hadiah ulang tahun, Dear Abidzar Vol. 1. Juga hadiah waktu untuk Abi. 24 jam setiap hari yang Ibu janjikan, Ibu tepati kan Nak? Ibu bahagia, bisa melihat detik demi detik pertumbuhan Abi. Melihat Abi semakin pinter bicara, pinter berkelakuan, dan pinter makan. Ahhh, bener-bener priceless!


Abi sayang, sudahkah Ibu menjadi Ibu yang baik untuk Abi? Tentu saja belum, Nak! Ibu sangat jauh, jauh sekali dari kata sempurna selama ini menjaga dan mendidik Abi. Masih sering mengomel, masih kurang sabar, masih sering khilaf mencontohkan hal yang kurang tepat.


Kalau lagi muncul amarah Ibu kepada Abi, Ibu akan langsung mengingat orang tua yang dianugerahkan anak-anak istimewa, anak-anak yang harus tumbuh dengan keterbatasan. Betapa orang tua anak-anak istimewa itu adalah orang tua yang sangat sabar. Mereka saja mampu bersabar menghadapi anak-anaknya, mengapa Ibu nggak? Padahal Ibu harus banyak bersyukur karena dianugerahkan anak sehat dan pintar, dengan pertumbuhan tidak kurang suatu apapun. Masih pantaskah Ibu marah-marah sambil bilang “Abi nakal” atau “Abi nggak bisa dibilangin” atau “Abi nggak mau denger”. Ahhh, Ibu malu Nak..


Ibu harus belajar lebih banyak lagi.


Ketika kamu sedang tidak bisa diam, sedang begitu ekspresif, pegang ini itu, lari kesana-kemari,  harusnya Ibu bersyukur bahwa kamu anak yang aktif, kamu sedang menambah ilmu kamu, kamu sedang eksplorasi semua yang ada dikelilingmu. Ibu akan khawatir bukan kalau kamu diam saja, tanpa ekspresi, dan tidak minat terhadap apapun?


Ketika kamu sedang manja tidak mau ditinggal, sehingga Ibu tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, harusnya Ibu bersyukur bahwa kamu sudah mengerti bahwa keberadaan Ibu sangatlah penting untuk kamu. Kamu ingin Ibu selalu ada disisimu. Ibu akan khawatir bukan saat kamu tidak menganggap Ibu ada?


Ketika kamu menangis hingga menjerit saat keinginanmu tidak dituruti, harusnya Ibu bersyukur bahwa kamu sudah mulai memiliki sebuah keinginan, sekaligus sebagai sarana Ibu belajar untuk mencoba mengerti kamu, berusaha melembutkan hatimu, dan mengajarkanmu untuk memahami bahwa semua yang kamu inginkan tidak selalu dapat kamu dapatkan.


Abidzar sayang, Ibu belajar sangat banyak dari Abi.


Abi adalah sekolah sabar untuk Ibu. Ibu seorang yang sangat emosional, berusaha sebisa mungkin meredam emosi dan menjadi orang yang jauh lebih sabar untuk menghadapi Abi. Ibu tidak boleh berhenti untuk mengingatkan hal-hal baik kepada Abi.


Abi mengajarkan Ibu untuk mudah memaafkan. Saat Ibu memarahi Abi lalu Abi akan berlari memeluk dan mencium Ibu. Tidak terlihat dendam di mata Abi, senyum Abi pun mengembang. Ahhh, kamu saja begitu mudah memaafkan Nak.


Abi membuat Ibu mencoba berhenti bersikap egois. Sekarang ini, semua prioritas Ibu adalah Abi. Ketika mau nongkrong sama teman-teman Ibu pun Ibu rela nggak ikut kalau jamnya adalah jam tidur kamu. Mau bersenang-senang ataupun nyalon, nggak bakalan tenang kalau kamu nggak ikut. Mau ada kerjaan


pun nggak Ibu ambil kalau kamu nggak bisa Ibu bawa. Ini adalah pilihan hidup. Dan Ibu memilih untuk menjadikan kamu skala prioritas Ibu.

Nak, percaya deh Ibu selalu berusaha berbenah untuk memperbaiki diri, Nak. Kalau Ibu mau Abi menjadi anak yang soleh dan baik, Ibu lah yang harus terlebih dulu mencontohkan menjadi soleh dan baik.
Terima kasih ya Nak, untuk setiap kejutan perkembangan yang kamu tunjukan setiap harinya. Terkadang, perkembangan sederhana membuat Ibu terharu, seperti saat kamu meminta menyanyi bersama dan kamu mampu menyebut lagu “Kasih Ibu” sambil menyenandungkan lagunya, lalu kamu bisa menyanyikan lagu secara utuh dengan bimbingan Ibu.
Terima kasih ya Nak, kamu tidak sulit diminta makan, bahkan kerap meminta makan sendiri. Tiap makanan yang disajikan mau makan berat, sayur, buah, cemilan, tak pernah kamu pilih-pilih, semua dengan muka gembira kamu lahap. Ibu tidak pernah dibuat stress karena kamu susah makan. Kamu juga selalu pintar makan sendiri.

Terima kasih ya Nak, kamu selalu menjadi partner menyenangkan untuk diajak bekerja bahkan travelling. Bahkan, kamu tidak pernah rewel kalau diajak bepergiaan, sehingga kadang Ibu jadi lupa waktu membawa kamu terlalu lama.

Terima kasih ya Nak, karena kamu menjadi anak yang berempati tinggi dan begitu penyayang. Kamu bisa ikut sedih ketika melihat orang lain kesusahan, kamu bisa ikut menangis ketika Ibu mengalami cedera. Ahhh pintarnya kamu! Kamu juga peyayang bukan cuma kepada sesama manusia, tapi juga hewan. Kamu begitu perhatian mengingatkan bahwa ikan peliharaanmu belum makan.

Terima kasih ya Nak, kamu telah menjadi sahabat terbaik, teman sehati, sejiwa, partner 24 jam, teman mengobrol, teman curhat,hiburan, penyemangat, dan segala-galanya buat Ibu.
Ibu nggak bisa ngebayangin hidup Ibu tanpa kehadiran kamu disisi Ibu.
Saat kamu besar nanti, Ibu hanya minta Abi jadi anak soleh dan berbakti.
Jangan berhenti berdoa dan meminta hal-hal baik kepada Allah ya Nak. Teruslah berterima kasih pada Allah atas semua hal yang telah Abi terima setiap detiknya.

Doakan Ibu dan Baba, semoga Allah selalu memberikan rezeki untuk kami berdua. Rezeki yang tak melulu soal materi, tapi rezeki untuk sehat dan panjang umur. Agar kami dapat terus menemani ratusan, ribuan, bahkan jutaan momen yang akan Abi lewati.

HAPPY BIRTHDAY ABIDZAR PRANAJA DANINDRA 💗


Seperti lagu yang selalu Abi nyanyikan :

Kasih Ibu kepada Abi, tak terhingga sepanjang mahasa… Hanya memberi, tak harap kembali.. Bagai sang surya menyinari dunia….

Seperti itulah Kasih Ibu Icha untuk Abi❤

Finally, Move to Batam

Haiiiii…

Beberapa minggu ini cukup sibuk packing barang-barang, terus berangkat, dan akhirnya sesampainya di Batam sibuk beberes rumah. Akhirnya, sampailah pada hari ini. Setelah melewati 4 tahun lebih LDR dan LMR 2 tahun lebih. Hari di mana aku nggak lagi menjalani LMR aka long distance marriage sama Pak Suami *hamdallah 

Buat aku, ini adalah sebuah keputusan paling besar dan lumayan bisa dibilang membanggakan buat aku pribadi. Jadi, sebelum ini, aku adalah orang yang super nggak bisa ngapa-ngapain dan nggak bisa diandelin urusan rumah tangga. Udah biasa ngandelin orang lain buat ngerjain pekerjaan rumah tangga. Masak? Yaaa, paling cuma buat sarapan Abi aja. Nyapu dan ngepel? Paling kalo Mbak Asisten Rumah Tangga mudik. Nyuci? Nggak pernah kepikiran. Bebenah rumah? Duuuh, suka mager. Tapiiii, begitu pindah ke Batam, secara nggak ada ART, semua harus dikerjain sendiri. Mau masak, nyapu, ngepel, nyuci, dan sederet pekerjaan rumah tangga lainnya. Boleh dong aku bilang ini sebuah pencapaian 😉

Semingguan di sini, so far betah-betah aja sih, walaupun sepi tapi kerjaan kan banyak. He he he.. Lingkungannya tenang dan bisa ngajak Abi muter-muter kompleks tiap sore. Yang nggak nahan cuma panasnya ajaaaa! Ampuuuunnn 31 derajat celcius maaaaak! 😅😅😅

Tapi, tinggal sendiri gini memberi aku banyak pelajaran. Aku jadi makin tau kesukaan dan ketidaksukaan suami. Aku belajar ini itu supaya bisa nyenengin anak dan suami. Yang terpenting, aku keluar dari zona nyaman untuk hidup mandiri dan ningkatin skill biar nggak mager terooooos… ha ha ha… 

Daaaaannn, akhir kata aku tunggu kunjungannya di Batam 😍😍😍😍

Abi tunggu di Batam 😉

XOXO,

Icha