Life with Psoriasis

Hello, i’m back!

Setelah vakum beberapa bulan ini, akhirnya aku kembali ke dunia blog. Ternyata cukup sulit untuk adaptasi kembali setelah 2 tahun jadi Ibu Rumah Tangga, lalu memutuskan kembali menjadi working mom hampir 8 bulan kebelakang. Tapi, di sisi lain aku cukup happy karena aku kembali ke lingkungan yang memang aku senangi ๐Ÿ™‚ Aku akan cerita di another post yah soal ini!

Di tulisan aku kali ini, aku mau cerita tentang penyakit aku, namanya Psoriasis. Dulu, pertama kali ketauan memiliki psoriasis, aku masih duduk di kelas 1 atau 2 SMP, di mana lagi dalam masa puber, di mana lagi pengen-pengennya tampil menarik. Cuma, takdir berkata lain, aku harus dikagetkan dengan banyaknya ruam-ruam kemerahan bersisik yang ada di beberapa bagian tubuh, yang makin hari makin parah, bahkan sampai ke bagian muka. Nggak jarang teman-teman atau orang lain berkomentar kalau aku menyeramkan. Ada yang bilang kaya luka bakar, panu, kurap, dan lain-lain. Ada yang menatap dengan iba, nggak sedikit yang menatap jijik.

Sakit hati, udah pasti! Sedih, jangan ditanya lagi! Beruntung aku nggak sampai dijauhin dan dikucilin. Terlebih, dulu orang-orang belum mudah mengakses internet jadi sulit untuk menjelaskan aku ini kenapa. Setiap ada yang bertanya, aku cuma bisa jawab “Penyakit keturunan dan nggak nular”. Nyatanya, nggak semua orang bisa menerima penampilan “aneh kita”.

Photo by google
Photo by google

Semenjak ketauan punya ruam kemerahan itu, aku langsung konsultasi ke berbagai dokter kulit terbaik. Salah satunya, dr. Benny Wahyudi, yang ternyata beliau adalah seorang dokter kulit yang mendalami tentang psoriasis. Beliau banyak melakukan riset terhadap penyakit ini. Untuk memastikan apakah aku benar memiliki psoriasis atau penyakit kulit lainnya, dr. Benny melakukan biopsi kulit dr bagian ketiak, yaitu mengambil sebagian kecil jaringan utk diteliti lebih jauh. Soalnya, psoriasis itu gejalanya dan penampakannya mirip banget sama eksim. Ternyata, hasil biopsi menyatakan bahwa benar aku memiliki psoriasis.

Awal-awal aku mengalami psoriasis di banyak tempat daerah lipatan (siku, dengkul), kulit kepala, kuku, hingga beberapa bagian tubuh termasuk wajah. Bahkan, aku sering gemas mengeletekkan kulit sampe bikin kotor kasur dan lantai๐Ÿ˜ข Kepala pun kaya berketombe padahal itu psoriasis. Sedih yaa? ๐Ÿ˜ญ

Aku jadi nggak pede memakai baju-baju agak terbuka dan males buat difoto. Makanya, kalau ditanya mana foto-fotonya hampir ngga pernah kusimpan karena masa itu adalah masa yang cukup berat. Cukup membuat masa remajaku agak tertekan, walaupun saat itu aku berusaha tetap bergaul dan aktif di berbagai kegiatan. Waktu itu aku berpikir, kalau penampilanku tidak bisa normal seperti orang lainnya, paling tidak aku harus tetap bergaul dan bersosialisi, bukan menyendiri. Karena kalau aku menghindari orang lain atau memilih menyendiri, aku pasti akan jadi orang yang terasingkan.

Beranjak SMA, aku mulai mencoba bersahabat dan menerima psoriasis ini. Aku berpikir bahwa, kalau penampilan ini agak menganggu, setidaknya aku harus tetap percaya diri untuk bergaul, bukannya malah menyendiri. Alhamdulillah, menyibukan diri di kegiatan organisasi dan berbagai kepanitiaan membuat aku merasa orang-orang “tidak menolak” psoriasis survivor sepertiku. Walaupun, aku perlu menjelaskan kepada mereka yang bertanya. Tapi, ya mereka memang perlu tahu, bahwa ini tidak menular dan mengganggu.

Aku mencoba bergabung dengan komunitas penyandang psoriasis. Itu semakin membuat aku merasa tidak sendirian. Aku bertemu berbagai orang dari berbagai profesi dan latar belakang. Bahkan, dokter pun ada yang menyandang psoriasis.

Semakin beranjak dewasa, psoriasis ditubuhku perlahan berkurang bahkan nyaris remisi. Remisi artinya psoriasis sedang tidak muncul. Aku jadi tau, kuncinya adalah, jika kita menganggap psoriasis ini sahabat, dia pun akan melunak๐Ÿ˜Š

Apakah suatu saat psoriasis ini dapat kembali muncul hebat? Yaa mungkin aja. Karena memang belum ada obat untuk menyembuhkannya. Siapkah aku jika suatu saat ia kembali. Yaa siap nggak siap, ya harus siap. Beruntung sekarang udah hidup dengan internet, kalau ada yang nanya, aku akan jawab, “Coba browsing tentang psoriasis deh!” ๐Ÿ˜Š

Hanya ini mungkin foto-foto yang masih tersimpan, pertama kali dalam hidup dengan percaya dirinya nunjukin psoriasisku. Ini sewaktu aku melibatkan diri menjadi bagian dari exhibition untuk memperingati hari psoriasis seluruh dunia. Aku harus bilang, ini adalah “gift” dari Allah yang harus disyukuriโค๏ธ

XOXO,

Buicha

Advertisements

Daycare VS Nanny, Pilih yang Mana?

Hello…. I’m back! Ha ha ha…

Sebenernya nggak kemana-mana sih, cuma kemarin ada beberapa pekerjaan yang bikin agak sulit menengok halaman milik sendiri ๐Ÿ˜ฆ Selain itu, kemarin-kemarin persiapan aku kembalik BEKERJA. Yes, benar! Nggak salah kok, memang aku kembali bekerja kantoran. Kenapa? Karena ada mimpi yang harus diwujudkan :))Persiapannya tentu nggak gampang. Pertama, harus sounding jauh-jauh hari sama Abi yang mana dua tahun terakhir ini, nggak pernah pisah sama aku. Kemanapun aku pergi, dia selalu ikut. Ini udah pasti berat buat Abi, dan buat aku juga tentunya. Kedua, persiapan mental karena akan menjalani Long Distance Married kembali, so sad ๐Ÿ˜ฆ Tapi, aku dan suami percaya bahwa suatu hari akan ada waktunya kami akan bersama kembali. Bismillah…. Nah, persiapan ketiga ini adalah yang terpenting, yaitu Abi akan dicarikan pengasuh atau daycare ya?

Kali ini, aku memilih untuk tidak memakai pengasuh. Aku memutuskan memilih daycare sebagai tempat belajar Abiย  Senin-Jumat. Pertimbangannya, ada rasa trauma juga sih sebenernya karena waktu abi bayi sampai setahun pakai pengasuh, aku ngerasa kesulitan membuat si suster ngikutin rules yang aku bikin dan itu bikin Abi nggak nambah kebisaan. Misalnya, aku punya aturan kalau makan Abi harus duduk di kursinya. Supaya dia terbiasa dan tahu waktunya makan. Itu nggak dilakukan si suster. Suster malah nyuapin Abi sambil digedong. Itu bikin Abi ngamuk kalau makan aku dudukin di kursinya. Dan sederet hal-hal yang nggak sreg dihati sama si suster ini semakin memicu aku waktu itu memutuskan harus berhenti kerja dan mengurus Abi sendiri. Percaya nggak percaya, begitu si suster berhenti, Abi langsung bisa makan sendiri. See? Anak-anak itu cepet kok kalau kita ajarin dan biasain.

By the way, untuk mencari daycare ini, aku butuh beberapa hari buat survei, kumpulin nama-nama daycare di sekitar tempat kerja beserta pricelist-nya. Kalau dari aku, pertimbangannya itu :

  • Lokasi

Ini penting banget. Jangan sampai daycare terlalu jauh dari tempat kita kerja. Selain mempermudah antar dan jemputnya, mempermudah juga kalau ada kondisi darurat, kaya anak sakit. Karena kantorku di kuningan, aku milih daycare di Guntur, deket Pasar Rumput situ. Akses kesananya mudah dan nggak begitu jauh dari rumah. Jadi, kalau aku ada meeting atau event yang nggak bisa ditinggal, orang rumah bisa dimintain tolong untuk jemput. Selain itu, kenapa lokasi penting, kalau terlalu jauh kasian banget anak kita di perjalanan. Terus, kasian juga nunggu kita jemput terlalu lama, padahal dia pengen banget cepet pulang ke rumah ๐Ÿ˜ฆ

  • Harga

Oooo tentu saja, harga menjadi poin penting dalam pencarian ini. Daycare itu emang harganya cukup lumayan, tapi menurutku sangat worth it karena ada activity-nya juga kaya playgroup gitu. Misalnya, ada kegiatan menggambar, mewarnai, bermain ke taman, kelas berenang, kelas musik, dan berbagai kegiatan montessori. Untungnya, aku dapet daycare yang belum lama buka, jadi harganya masih cukup ramah dengan budget-ku dan suami.

  • Guru yang Terpercaya

Ada sebuah daycare yang memang udah terkenal banget di daerah Guntur ini dari dulu dan sering dibahas di forum mamak-mamak. Tapi, daku shock sekali pas liat harganya. Astagaaaahhhhhh….! Ngewri banget. Ha ha ha lebay! Tapi, seriusan deh harganya cukup menegangkan dari mulai biaya registrasinya, lalu biaya bulanannya. Untungnya lagi nih, daycare yang aku pilih ini miss-miss (panggilan untuk gurunya) nya, pindahan dari daycare yang terkenal ini. Alhamdulillah:))

  • Nggak Pusing Urusan Makan

Enaknya di daycare untuk working mom itu, nggak perlu pusing nyiapin menu buat anak karena di daycare sudah disiapkan makan 3x sehari makan berat dan 2x sehari snack. Itu dia kenapa aku bilang daycare ini sangat worth it. Buibuk, hanya perlu menyiapkan baju, pakaian dalam, susu, alat mandi, dan handuk.

  • Tempat Bersih

Nah, punya anak yang super bersih alias nggak bisa jijik-an kaya Abi gitu emang kadang agak rempong. Dia itu kalau kamar mandi kotor dikit aja, suka nggak mau masuk, apalagi kamar mandi rumah orang. Wakakaka.. Otomatis, aku harus pilihin tempat yang nyaman dan super bersih buat Abi. Supaya, dia nyaman dan ngerasa kaya di rumah keduanya ๐Ÿ™‚

  • Ada CCTV Online

Buibuk, sesungguhnya working mom itu membutuhkan ketenangan dalam bekerja. Nah, berhubung aku anaknya suka worried gitu, apalagi yang menyangkut anak, CCTV online adalah solusinya. Aku bisa mengakses kapanpun dan dimanapun dari berbagai penjuru kalau mau lihat keadaan Abi. Fuihhhh, Buicha tenang bekerja deh….

  • Ada Report dan Dikirim Foto Kegiatan

Di daycare pilihanku ini, ada report diatas kertas tentang kegiatan anak dan makan anak habis atau tidak. Miss juga akan mengirimkan foto kegiatan pada hari itu. Ini cukup membantu aku, yang tentu saja kehilangan banyak waktu dan momen melihat tumbuh kembang Abi. (ini sedih sihh…)

 

  • Sosialisasi & Beragam Activity

Untuk anak seusia Abi, dia sangat butuh sosialisasi dengan teman sebayanya untuk semakin memacu perkembangannya dari semua aspek. Dia perlu banyak berinteraksi supaya makin lancar ngomongnya. Dia perlu banyak aktivitas juga untuk menyalurkan energinya yang warbiyasak ha ha ha… Bahkan, kemarin ada field trip ke Kebun Binatang Ragunan. Sayangnya, Abi lagi sakit jadi nggak bisa ikutan.

  • Bikin Lebih Mandiri

Abi baru 3 mingguan di daycare, menurut aku perubahannya pesat loh. Sekarang ini, aku merasa dia jauh lebih mandiri, makan sendiri, pakai baju sendiri, mandi sendiri, dia kaya berusaha melakukan apa-apa sendiri. Padahal, sebelumnya dia cenderung lebih suka disuapin kalau makan. Mungkin awalnya, akunya juga sih yang kadang terlalu gemes nyuapin, supaya makannya nggak lama, padahal sebenernya diaย  bisa makan sendiri.

Awal masuk daycare gimana? Hari pertama, dia sangat semangat karena sebelumnya dia sudah di sounding akan sekolah. Tapi, pas diantar lalu aku mau berangkat kantor, dia nangis sangat kenceng dan itu bikin aku super sedih, nyaris nangis di ojek ๐Ÿ˜ฆ Seminggu pertama, menjadi minggu yang berat buat aku dan Abi. Abi selalu menangis dan bilang nggak mau sekolah terus menerus sepanjang hari. Akupun jadi sedih sendiri karena denger dia nangis dan mengulang-ulang kalimat nggak mau sekolah. Masalah utama dia itu kayanya karena ada waktu tidur siang dan dia punya kebiasaan tidur dengan memegang rambutku. Kebiasaan yang hilang itu bikin dia sedih.

Tapi, minggu berikutnya keadaan menjadi lebih baik. Dia udah mulai senyum saat berangkat. Kadang kalau ditinggal suka berkaca-kaca, tapi dia tetap masuk kelas. Dia kan anak kecil biasa yang juga butuh waktu untuk adaptasi dengan tempat dan lingkungan baru.

Minggu berikutnya lagi, dia kembali jadi anak yang ceria dan bersemangat. Naik dan turun mobil tanpa paksaan, masuk kelas tanpa tangisan. Minggu yang mulai menenangkan ๐Ÿ™‚

Cuma, memang nih kalau pake daycare itu, kita harus tepat waktu untuk jemput anak karena selain ada lemburannya, daycare kan juga ada batas waktunya. Kalau pakai pengasuh di rumah kan memang kita nggak harus berkejar-kejaran sama waktu. Tapi, menurut aku pribadi daycare itu jauh lebih menguntungkan sih. Sekarang, keputusan kembali ke tangan Buibuk sekalian, mau daycare atau nanny ya kembali ke pilihan masing-masing.

Semoga informasi ini bermanfaat ya Buibuk.

XOXO,

Buicha

Qlapa.com si Penyelamat!๐Ÿ˜Ž #CintaProdukLokal

Duhhh, aku lagi dapet tugas negara nih. Jadi, ceritanya, bokap mau berangkat ke Polandia awal Mei besok, nah sahabatnya orang Polandia, udah punya sederet list barang yang mau dititip dari Indonesia. Nyokap pun cukup pusing dan minta gue untuk bantu nyari.

Ehhh, nggak taunya Abi sakit beberapa hari ini. Cuaca lagi nggak oke, bikin dia batuk, pilek, dan demam๐Ÿ˜–๐Ÿ˜– Otomatis, nggak mungkin bepergian ke pusat perbelanjaan ataupun pameran buat nyari barang yang di-request dong yaa..

Apa aja sih titipan bule Polandia itu? Nahhhh, jadi nih ya, bule itu cinta banget sama semua yang khas dari Indonesia, mulai dari batik, tenun, sampai aksesoris etnik buatan pengrajin Indonesia. Dan mereka beneran minta tolong banget loh dicariin mulai dari baju, kalung-kalung cantik, syal, sampai tas. Lumayan juga kan? Udah beberapa kali lho, dia nitip produk-produk Indonesia. Itu menandakan produk Indonesia super kece, nggak kalah sama produk luar. Betuuuull?

Kembali ke permasalahan, aku perlu nyari batik, tenun, dll, tapi nggak bisa kemana-mana karena anak sakit. Untungnya, aku nemuin website qlapa.com, teknologi emang terbaik! Bagaikan menemukan oase di padang rumput wakakaka. Fuihhhhh….*lap keringet

Qlapa.com itu adalah website yang menjual produk-produk handmade terbaik buatan pengrajin Indonesia. Barang-barangnya bagus banget, lucu-lucu (bikin aku juga pengen ikutan belanja zzzzz), dan up-to-date banget. Aku tinggal duduk manis dan barang pun datang *yeyyy!! Yakin banget, bahan bakunya udah pasti berkualitas.

Semua barang dijelasin dengan detail, misalnya soal ukuran baju deh. Orang bule itu udah kasih ukurannya dia, tinggal dicocokin deh sama detail ukuran yang ada di keterangan tiap barang. Jadi, nggak khawatir bajunya nggak muat kan?

Nyokap pun pas dikasih tau, girang beneuuur… Katanya, “Bagus deh, nggak perlu pegel keliling-keliling cari barang.”

Caranya? Oooo, sangat mudah!

1. Buka website atau download aplikasi qlapa.com, bikin aku juga ya๐Ÿ˜Š

2. Pilih barang yang dimau (ada banyak kategorinya). Masukan ke dalam keranjang belanja

3. Masukan alamat

4. Transfer

5. Tinggal menanti barang tiba deh

Astagaaahh, gemes-gemes banget, rasanya pengen beli semua… Akhirnya, aku menemukan beberapa barang yang dia inginkan. Harganya pun, masuk akal lah.

Nggak kerasa, keranjang belanjanya panjang amat list-nya haha..

Soooo happy! Akunya aja yang ngebelanjain super happy. Apalagi yang nerima barangnya, happy berkali-kali lipat deh pasti karena barangnya cantik-cantik๐Ÿ˜Š

Pasti pada penasaran, cuss langsung aja ke qlapa.com ๐Ÿ˜

Instagram

Facebook Page

XOXO,

Buicha

Quality Time Makin Lengkap dengan Julie’s Peanut Butter Sandwich๐Ÿ’“

Apa sih yang dibutuhin pas udah jadi ibu-ibu gini? Diotak aku sih langsung kepikiran me time. Nyatanya, mau me time aja susyaahh beneuuur! Baru niat mau me time, ehhh si bocah udah ngerengek maunya sama Ibunya seorang. Mau pergi nyalon aja, si anak kicil maunya ngikut. Duuuuhhh!

Yaaa gini emang, semenjak mutusin jadi ibu rumah tangga dua tahun lalu, Abi memang terbiasa sama ibunya, apa-apa ibu. Repot sih emang, tapi ternyata kerepotan itu membahagiakan juga dan pastinya harus dinikmati dengan baik.

Nanti kalau dia udah makin gede, maunya main sama temen-temennya doang atau lebih milih sibuk sendiri di kamarnya, sedih nggak ya? Pasti sedih banget booo’! *Mellow-nya udah dari sekarang*

Hmmm ya ya, jadi ibu rumah tangga, ternyata warbiyasak sulitnya Buibuuuk! Apalagi, kaya aku yang nggak ada maid, ikut suami dinas di Sidoarjo. Kebayang nggak seharian harus beberes rumah, anter sekolah, masak, memenin main, dan lain-lain.

Jadi, me time aku itu pas aku balik ke Jakarta. Lumayan deh, bisa nitipin dia sama neneknya atau mbak dirumah buat rileks sejenak atau ngabur ke salon bentar. Lumayaaann๐Ÿ˜‚

Lucky me, Aku dikasih suami yang ngasih aku kebebasan yang cukup luas buat terus berinteraksi sama dunia luar. Mau nongkrong sama temen-temen? Boleh! Mau ajak anak makan enak ke mal? Boleh! Mau refresing kesini kesitu? Boleh!

Pada akhirnya, kita akan nemuin cara sendiri untuk membuat diri sendiri bahagia, bahkan terkadang bisa dengan hal-hal sederhana. Kadang me time seharian di salon ternyata bukan hal yang aku butuhkan. Kadang, ngemil sambil main dan bercanda sama Abi malah yang aku butuhkan.

Karena suamiku super sibuk, weekend is our family day! Jadi, kami pergi bertiga jalan-jalan ke tempat wisata, mall, playground, atau sekedar belanja. Punya waktu pergi bertiga memang jarang tapi, sekalinya pas bisa, waktu jadi berharga banget.

Jadi, weekday di mana suamiku kerja, waktu aku sama Abi. Buat aku, main atau jalan-jalan sama Abi adalah hal yang ternyata sangat sangat menyenangkan. Melihat dia dengan mata berbinar-binar mengajak bermain sungguh priceless๐Ÿ˜‰

Mengajak Abi untuk bertemu teman-temanku juga ternyata tak kalah menyenangkan. Dia yang mulai bisa diajak berinteraksi, bisa ngobrol juga dengan teman-temanku. Terkadang tingkah polosnya menjadi hiburan di tengah-tengah kami. Aku bisa tetap mengobrol seru dengan teman-temanku, tanpa harus kepikiran Abi sedang apa dirumah kan? ๐Ÿ˜‰

Mengajak Abi playdate dengan anak-anak temanku juga sesuatu yang seru. Aku tetap bisa ngerumpi dengan temanku sambil melihat Abi bermain dengan teman sebayanya. Jadi, kami berdua bisa sama-sama happy, kan? ๐Ÿ˜Š

Bagaimana dengan komunitas? Tentu saja masih tetap bisa aku jalani..Kalau memungkinkan aku bawa, Abi pasti aku bawa. Tapi, kalaupun tidak memungkinkan terpaksa aku tinggal tapi tidak mungkin terlalu lama karena Abi pasti mencariku. Abi sih gapapa ditinggal, tapi pulangnya kudu bawa buah tangan. Buah tangan apa? Nanti aku share dibawah hi hi hi…

Kalau ada hal seru yang lagi dibahas di grup WA komunitas, masih tetap bisa nimbrung kok. Caranya gimana?

Abi itu lemah sama makanan, hi hi hi… Dia suka banget makan dan ngemil. Like mother like son banget lahhh! Cukup berikan cemilan yg yummy dan mobil-mobilan dia bisa loh anteng main tanpa mengangguku.

Soal cemilan aku dan Abi tuh agak picky deh. Bener-bener harus yang pas banget di lidah, kalau nggak jangan harap aku beli lagi. Tapi, kalau udah suka, hmmm maunya itu lagi itu lagi๐Ÿ˜‚ Kaya yang aku bilang tadi, kalau aku tinggal Abi sebentar, pulangnya wajib ada sogokan alias kudu bawa oleh-oleh. Oleh-olehnya apalagi kalau bukan makanan wakakaka…

Kebetulan, aku dan Abi lagi suka banget sama Julie’s Peanut Butter Sandwich. Pas banget ini buat jadi Buah Tangan #PenuhCintadariJulies untuk Abi ๐Ÿ’•

Biasanya aku sama Abi sambil main sambil sibuk ngunyah jugaaak. Nah, Julie’s Peanut Butter ini tuh crackers berlapis selai kacang yang pas bener buat temen main kita. Manisnya pas, olesan selai kacangnya nggak berlebihan, nggak bikin eneg. Enaaakk beneuuurr! Bahaya sih, susah berenti๐Ÿ˜œ

Julie’s Peanut Butter Sandwich ini juga jadi andalan aku dan Abi untuk bepergian. Abi yang revel rusuhnya lagi diatas rata-rata cuma bisa diem di mobil kalau disuap makanan.

Sebelnya, serumah pada doyan jadi suka tiba-tiba abis. Ihhh, sebel deh, beli sendiri kek! *Pelit ๐Ÿ˜‚

Kalau Abi cara makannya dicelup ke susu UHT-nya dia. Hmmm, enyaaaak! Bisa nggak berenti deh tuh saking doyannya.

Soal halalnya? Oooo tentu saja halal saudara-saudara. Cuma karena produksinya masih di Malaysia bukan langsung di Indonesia, prosesnya untuk dapet legalitas halal jadi agak makan waktu. Tapi, kalau nggak percaya bisa cek dibawah ini ๐Ÿ™‚

Belinya nggak perlu jauh-jauh cukup cus ke Indomaret dapet deh๐Ÿ˜‹ Harganya affordable loh Buibuuk *dasar emak2. Fyi, kemarin pas beli lagi beli 2 gratis 1, nggak mau rugi ya kan namanya emak2 nggak bisa kena promo, Buicha langsung borong cuuuuyy! (Promonya cuma sampai 24 April ’18 saja Buibuuu, serbuuuuuu!)

Eitssss, tungu dulu struknya jangan sampai kebuang ya. Soalnya, Julie’s Peanut Butter Sandwich lagi ngadain kompetisi foto nih. Hadiahnya ada microwave, alat masak, dan voucher belanja. Duhhhh, kebutuhan Emak-emak banget lah yaaa he he he… Info lebih lengkapnya bisa klik disini

Begitulah kira-kira ceritaku yang selalu berusaha happy setiap harinya. Yang negatif-negatif, hush..hush..sanaaaaa…pergi jauh-jauh! Semoga kita selalu jadi happy mother ya, soalnya nih katanya kalaupp ibu bahagia, seisi rumah pun bakal bahagia. Dan….. itu bener sekali๐Ÿ˜‰

XOXO,

Buicha

Target 2018 : Abi Sukses Toilet Training ๐Ÿ˜‰

Aku tau, memulai kebiasaan yang baru pada anak itu adalah sesuatu yang nggak bisa dipaksakan. Kaya toilet training misalnya. Nggak semua anak siap toilet training di usia yang sama. Ada yang anaknya umur 2 tahun tapi udah lepas pampers, bahkan ada juga yang sampe 5 tahun belum juga lepas pampers. Kesiapan untuk memulai toilet training itu kembali lagi pada kesiapan anak itu sendiri dan kesabaran dari orang tuanya. Gimana sih cerita toilet training Abi?

Akhirnya, baru berani share soal ini setelah aku yakin banget Abi bener-bener bisa lepas pampers. So, here is our story…..

Aku mulai mengenalkan “Kalau pup dan pipis itu di toilet sejak Abi umur 6 bulan, dimana dia udah mulai dapat duduk tegak sendiri. Aku pernah tulis ceritanya disini

Nah, tools pertama banget yang aku beli itu potty seat bergambar Winnie The Pooh and Friend. Belinya di Ace Hardrware seharga seratus ribuan lebih.

Abi mulai terbiasa pup di toilet. Biasanya tiap pagi didudukin di toilet dia akan pup. Sejak umur setahun nyaris dia nggak pernah pup di pampers. Dia udah mulai bisa nahan pup, kecuali kondisi yang terdesak, misalnya kita sedang pergi keluar, toiletnya sangat tidak nyaman atau kita sedang di perjalanan dan nggak ada tempat pemberhentian. Namun selebihnya, dia akan kasi kode untuk pup sekalipun belum bisa bicara.

Sampai saatnya kita harus pindah ikut Baba ke Batam. Kebiasaan pup di toilet jadi berantakan karena di Batam kami mengontrak rumah yang dapatnya closet jongkok. Lalu, aku sempat membelikan dia Potty Chair. Belinya di Mothercare, kalau nggak salah sih harganya dua ratus ribuan. Enak sih, bagian atasnya mudah diangkat, sehingga setelah pup mudah membersihkannya. Sayangnya, Abi kadang mau kadang nggak pup disitu. Mungkin karena kurang nyaman juga ya.

Kembali ke Jakarta kebiasaan pup di toilet pun dapat diperbaiki. Alhamdulillah, hingga hari ini dia selalu minta pup di toilet sekalipun nggak di rumah.

Umur 1 tahun 9 bulan, Abi udah cukup lancar bicaranya. Dia udah semakin bisa mengungkapkan sesuatu. Tapi, aku belum merasa siap untuk memulai toilet training pipis untuk Abi. Ini Ibunya loh yang belom ngerasa siap. Karena jujur aja, ngebayangin harus ngepelin ompolnya setiap saat, duuuuuhhhhhhh…..Aku mengikuti suamiku pindah ngurus Abi sendiri, harus masak, nyuci, nyapu, ngepel, beberes, ini itu ini itu, paham kan rasanya? ๐Ÿ˜‚ Tapi ya itu, toilet training itu nyatanya butuh kesiapan nggak cuma dari anak, Ibunya juga.

Lalu, Baba kembali dipindahtugaskan ke Sidoarjo, untungnya kami mendapat rumah yang closet-nya duduk, jadi aku tinggal membelikan
aja untuk Abi, kali ini bergambar Spiderman favoritnya. Semakin semangat lah dia untuk pup di toilet ๐Ÿ˜‰

Menginjak usia hampir 2,5 tahun, aku merasa sudah saatnya mulai mengarahkan Abi untuk toilet training. Ini kan hal yang baik, masa mau ditunda terus. Lagian kan, ini bagus juga untuk menekan pembelian pampers. Betul Buibuuu? ๐Ÿ˜‚

Akhirnya, aku mengikhlaskan diri kalo memang harus sering mengepel ompolnya. Nyatanya, nggak sesering itu kok. Akunya aja terlalu parno mungkin yaa. Di awal-awal dia hanya beberapa kali mengompol, mungkin karena belum biasa itu hanya sekitar 2 hari. Hari berikutnya, dia sudah mulai membuka celananya sendiri, lalu menuju ke kamar mandi dan pipis di pee training. Hari-hari berikutnya lagi dia nyaris tidak pernah mengompol lagi. Kalau sebelumnya aku masih memakaikan Abi pampers saat tidur, secara bertahap mulai aku lepas, dimulai dari saat tidur siang. Aku keluarin lagi deh perlak dia pas bayi. Jaga-jaga aja, supaya kalaupun ngompol nggak langsung ke kasur.

Saat tidur siang udah berhasil nggak ngompol, aku mulai coba buka pampers saat malam tidur. Tapi, wajib kudu harus banget sebelum tidur itu pipis dulu dan bangun tidur diajak pipis juga. Kalau nggak pipis, udah pasti ngompol deh๐Ÿ˜‚ Apalagi, Abi itu anak yang doyan banget minum air putih. Kebayang dong, pipisnya buanyaaaaak benerrr…

Alhamdulillah, ini udah 3 bulanan, Abi nggak pakai pampers lagi. Ngompolnya pun udah hampir nggak pernah. Kecuali kalau dia lagi nangis heboh gulang guling, biasanya cara menyalurkan marahnya itu dengan sengaja pipis di lantai ๐Ÿ˜ชkezel sih, tapi ya Buicha hanya bisa menasehati dan menyabarkan diri yang udah bertanduk๐Ÿ˜‚

Ini beberapa hal yang aku coba lakukan untuk toilet training :

1. Menjadikan Rutinitas

Seperti yang aku bilang di atas, aku menjadikan Abi harus duduk di closet tiap pagi sejak dia bisa duduk sebagai sebuah rutinitas. Sehingga, dia tau bahwa kalau mau pup dan pipis itu di toilet.

2. Belikan Tools yang Menarik

Aku membelikan potty chair, potty seat, dan pee training yang gambar atau bentuknya lucu, sehingga menarik dia untuk tahu lebih jauh apa fungsinya tools itu. Misalnya, potty seat-nya dibelikan gambar spiderman di mana dia lagi tergila-gila sama spiderman. Hasilnya, dia selalu semangat kalau waktunya mau pup. He he he… Terus, pee training-nya bentuk kodok gitu, dia kegemesan sendiri, dia kan akhirnya penasaran mau ngeliat sambil aku kasih tau deh, cara pipis anak laki-laki itu seperti apa, sekalian cara buang pipisnya ke closet, sampai cara ceboknya. Dan dia bangga banget kalau bisa ngelakuin sendiri dengan bilang, “Ibu, Abi pinter pipis sendiri…”

3. Berikan Pujian dan Hadiah

Nah, ini nih yang penting banget. Anak itu harus banget dipuji kalau dia melakukan hal baik dan benar. Nggak ada salahnya kok, kalau sesekali juga kita berikan hadiah yang dia mau untuk sesuatu yang sudah susah payah dia lakukan. Pas Abi berhasil nggak ngompol, Ibu dan Baba ngejanjiin beliin mobil-mobilan. Abi pun bebas memilih yang dia mau, dia pun super happy!

4. Tidak Memaksa

Awal-awal toilet training, Baba tuh pernah bilang aku ambisius pengen Abi lepas pampers. Duhh, nggak sama sekali! Aku tau kok, tiap anak beda dan punya cara sendiri buat solve masalah mereka masing-masing. Yang aku lakuin bukan memaksa Abi, tapi men-trigger dia untuk percaya diri bahwa dia bisa kok lepas pampers dan pipis di toilet. Awal-awal agak nggak sabar emang, tapi aku buru-buru sadar bahwa semua ini butuh proses. Aku mencoba bikin prosesnya jadi santai dan seru aja. Misalnya, aku bilang ke Abi kalau aku sudah siapkan air di gayung buat cebok. Kalau dia mau dia bisa pipis di tempat pipis kodoknya. “Abi kagetin Ibu yaaa…”, Aku bilang gitu. Alhamdulillah berhasil. Dia kalau mau pipis, copot celana sendiri, terus ke kamar mandi deh. Aku langsung ikutin dan dia dengan muka sumringah bilang kalau dia pipis sendiri. Yey!

5. Belikan Celana Dalam Bergambar Lucu

Ini juga penting Buibuuuk…Neneknya Abi hadiahin Abi celana dalam gambar spiderman kesukaannya. Dia selalu excited mau pake. Nah, aku selalu bilang, kalau dia mau pakai celana dalam harus lepas pampers dulu karena kalau pakai celana dalam nggak pakai pampers lagi. Ternyata, lumayan jadi penyemangat dia untuk lepas pampers loh. He he…

6. Belikan Botol Pipis

Kita kan kudu konsisten nih ngajarin toilet trainingnya. Jadi, kalaupun lagi pergi toilet training harus tetep jalan. Kadang kalau masih awal gitu, anak suka masih susah nahan pipis kan. Kalau di mobil atau kebelet banget sedangkan kamar mandi jauh, kita bisa gunakan botol pipis deh. Sekarangdijual botol pipis dengan gambar menarik loh. Berguna banget aslikkk! Apalagi kalau lagi di mobil. Harganya pun terjangkau lah, cuma 50ribuan. Kalo foto dibawah ini buat anak cowok, kalau buat anak cewek corong depannya lebih lebar. Kalau mau dipake tinggal buka corong dan pentul diatasnya itu supaya air pipisnya ngalir ke bawah, kalau udah selesai tinggal ditutup lagi corong dan penutup atasnya supaya nggak tumpah. Easy to use, kan?

7. Bertahap

Di dunia ini kan nggak ada yang instan ya, yang namanya mie instan aja bikinnya kudu pake proses. Apalagi ini, ngajarin makhluk yang bernyawa yang kadang juga punya mau sendiri. Kuncinya adalah sabar. Walaupun sabar dalam hal ini nggak semudah kata-kata pembicara seminar parenting. Susah berat Buibuuuk! Tapi, yaaa sebisa mungkin diusahakan sabar sesabar-sabarnya menghadapi anak๐Ÿ˜Š

Kurang lebih sih itu yang aku coba lakuin ke Abi. Pertanyaannya, kapan sih anak itu siap toilet training? Jawabannya, balik lagi ke feeling Ibu deh. Tapi, kalau nyomot dari berbagai literatur sih katanya kalau anak udah bisa ngomong dengan jelas mau pipis/pup dan udah bisa buka celana sendiri. Ahhh, tapi percaya aja sama feeling Buibuk karena Ibu paling tau yang terbaik buat anaknya ๐Ÿ˜‰

Semoga sharing aku bermanfaat ya, buibuuukkk. Cerita yang baik boleh banget ditiru, tapi yang jeleknya dibuang jauh-jauh aja๐Ÿ’•๐Ÿ’•

Kiss kiss from us,

Buicha & Abidzar

Kasih Ibu Sepanjang Masa 💕💕

Inget banget, awal melahirkan, aku masih kaku banget, kadang nggak tau harus ngelakuin apa dalam urusan ngerawat anakku. Namanya Ibu baru yang masih belum ngerti apa-apa, aku merasa terbantu banget dengan nyokap yang care banget dan ngajarin aku banyak sekali hal. Beruntungnya lagi, nyokap yang cukup melek teknologi, nggak memaksa aku mengikuti apa yang ibunya dulu terapkan. Dia selalu bilang ,”Dulu sih begini, tapi sekarang gimana ya?”. Dia juga nggak pernah berhenti belajar dan mencari informasi dari berbagai sumber supaya update cara merawat anak masa kini.

Semenjak menikah dan punya anak, ternyata ketergantungan aku sama nyokap nggak berakhir ya๐Ÿ˜

Semenjak menjadi istri, otomatis aku harus belajar banyak hal, bahkan hal yang sebelumnya belum pernah aku lakuin. Salah satunya, belajar masak. Jaman aku abege, aku sering banget disuru nyokap belajar masak. “Nanti kalau punya suami gimana kalau nggak bisa masak?”, itu kata nyokap. Aku sih selalu ngejawab iya-iya aja, tanpa ada bukti nyata kalau aku mau belajar masak.

Lalu, setelah nikah, punya anak, dan sekarang harus ikut suami penempatan di luar kota, masak adalah salah satu kegiatan yang wajib banget aku lakuin. Suami sama sekali nggak maksa aku harus bisa masak. Tapi, aku sendiri  yang mikir, “Masa, suami dan anakku beli makan di luar terus?”. Makanan di luar kan nggak tau masaknya gimana, belum kalau banyak msg-nya. Ngeriiiii! Makanya, aku berusaha banget belajar masak. Dari mulai masak yang rasanya abstrak, sampe Alhamdulillah sekarang rasanya udah lebih bisa diterima sama suami. Karena tinggal beda kota sama nyokap, otomatis aku nggak bisa belajar masak langsung sama beliau. Alhasil, aku telepon untuk minta resep atau minta diajarin step by step masaknya.

Hmmm, memang ya kasih Ibu itu sepanjaaaanggg masa! Nggak pernah tuh complain sekalipun aku ngerepotin mulu.

Sekalipun aku udah jadi istri orang gini, apa-apa masih ‘ngadu’ ke nyokap, dari mulai urusan rumah sampai urusan anak, orang pertama yang bakal aku curhatin ya nyokap lah. Buat aku, nyokap itu selalu punya jawaban dan pemecahan buat masalah-masalah. Walaupun, pada akhirnya nyokap bakal bilang, “Yaaa, itu terserah kamu”. Ada yang masih bergantung sama nyokap kaya aku Buibuu? ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Aku pun semakin belajar, bahwa memang kodratnya anak itu akan bergantung pada Ibunya. Contohnya, hal kecil yang biasa dilakukan anakku Abi saat waktunya tidur, dia akan sibuk mencari rambutku untuk dipegang sampai akhirnya dia tertidur. Pernah aku tinggal dia untuk mengikuti sebuah acara di Jogja, aku titipkan dia sama nyokap (lagi-lagi nyokap;)), katanya sepanjang siang perhatiannya teralihkan karena sibuk bermain sekalipun sesekali masih menanyakan aku. Begitu malam tiba, dia gelisah dan sulit tidur, lalu sibuk mencari-cari rambut. Hehehe…

Ternyata, aku pun juga nggak bisa berhenti mikirin Abi, meskipun aku sedang menikmati ‘me time’. Dia lagi ngapain, dia mau makan apa nggak, dia nyariin aku atau nggak, duhhh pokoknya Abi teruuus ๐Ÿ˜‚ Malah suami, jarang kepikiran ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Gitu ya ternyata rasanya jadi Ibu. Apalagi kaya aku gini yang udah jadi full time mom, 24 jam Abi sama aku, kemanapun aku pergi selalu aku bawa-bawa. Kekhawatiran yang tidak pernah berakhir gitu deh ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Aku rasa, nyokap juga ngerasa begitu, sekalipun sekarang aku udah menikah dan punya anak, kekhawatirannya terhadapku nggak pernah berhenti.

Kekhawatiran Ibu itu karena rasa cinta yang SANGAT besar terhadap anaknya. Kaya aku satu setengah tahun yang lalu, ketika aku merasa pengasuh anakku tidak sesuai dengan harapan, aku meruntuhkan seluruh ego-ku. Dulu, aku bisa beli apapun yang aku mau, belanja ini itu sesuka hati pakai uangku sendiri. Tapi akhirnya, Aku putuskan berhenti menjadi working mom, lalu berkomitmen mengasuh anakku sendiri tanpa bantuan pengasuh. Yaaa, karierku sekarang ini memang terhenti. Ah, tapi melihat perkembangan Abi dari hari ke hari langsung dengan kedua mataku, mengajari banyak hal langsung dengan seluruh kemampuanku, adalah hal yang tidak dapat dinilai bahkan dengan nominal uang.

Karena rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Pernyataan yang sangat tepat buatku. Bagiku, pembentukan karakter seorang anak dan perkembangan anak dimulai dari rumah. Ibu lah yang berperan penting untuk membuat ‘sekolah pertama’ itu berjalan baik. Lalu, saat anak mulai bersekolah di sekolah formal, apakah tugas Ibu berhenti? Oooo tentu tidak! Ibu tidak akan pernah berhenti untuk mengedukasi buah hatinya. Misalnya, mengajari anak untuk mampu beradaptasi dengan dunia luar. Itu dia, jadi Ibu itu ternyata pekerjaan yang nggak ada waktunya karena waktunya itu sepanjang masa.

Semenjak jadi full time mom, aku mulai mengurangi penggunaan gadget untuk diriku sendiri (Abi tidak bermain gadget sama sekali), melakukan banyak aktifitas seperti bermain lego, membaca buku, bermain belanja-belanjaan, dan aktifitas-aktifitas yang dapat merangsang tumbuh kembangnya. Dengan keintiman yang aku bangun ini, aku semakin merasa Abi sangat membutuhkanku. Ada kalanya, dia sibuk mencari perhatian. Misalnya,bdengan memanggil-manggil aku yang sedang sibuk di dapur, lalu jika aku masih sibuk dengan kegiatanku dia akan menangis, bahkan bisa menangis heboh. Atau jika terbangun, lalu aku tidak ada didekatnya dia akan menangis sambil teriak memanggilku dan tidak akan berhenti sampai aku datang. Duhhh, nikmat bener jadi Ibu. Ketika kamu merasa sangat dibutuhkan, rasanya nggak bisa digambarkan dengan kata-kata.

Aku sering mengajaknya untuk pergi dan bermain di luar berinteraksi dengan sekitar untuk merangsang motorik dan kemampuan bicaranya. Aku mendorong dia juga untuk dapat bergaul dengan teman sebaya, serta berinteraksi baik dengan orang yang lebih tua ataupun yang lebih muda. Semakin sering aku membawanya ke luar, semakin terasah pula kemampuan berbicaranya dan semakin baik pula adaptasinya dengan lingkungan luar.

image

image

image

Aku sering dibuat terharu dengan kalimat-kalimat yang dia ucapkan. Alhamdulillah, di usia 2 tahun 4 bulan ini dia sudah dapat berbicara dengan cukup jelas. Dia memiliki sebuah cita-cita, yakni ingin ke rumah Allah, Ka’bah. Anak  2 tahun punya cita-cita seperti itu, rasanya aku ingin menangis terharu. Sampai-sampai dia punya tabungan, lalu kutanya untuk apa tabungan itu, dia menjawab, “Untuk ke Rumah Allah, Ka’bah”. Bangganya Ibu sama kamu, Nak. Mungkin dulu waktu Ibu seumur kamu, cita-cita Ibu sebatas ingin punya boneka barbie selemari atau sebatas ingin makan es krim segentong๐Ÿ˜‚ Bahkan, di usianya sekarang ini dia sudah bisa menjawab pertanyaan siapa presiden Indonesia, dia akan langsung menjawab, “Bapak Jokowi”.

Banyak yang suka nanya, gimana caranya bikin Abi jadi ceria, seneng ngomong, responsif, dan gampang bersosialisasi. Aku sebenernya juga bingung loh kalau ditanya. Hanya saja, mungkin karena aku memperlakukan Abi layaknya seorang teman, aku ajak bermain dan aku ajak bicara banyak hal. Lalu, aku memperlakukan dia bukan lagi seperti anak bayi, aku tegur kalau dia salah dan aku apresiasi kalau dia melakukan hal-hal yang hebat. Aku berusaha mengajarinya banyak hal tanpa memaksanya dan berusaha memberikan hal-hal positif. Aku berusaha meberikan dia contoh, bukan hanya sekadar ucapan. Yang aku yakini, kalau kita ingin anak baik, kita lah yang harus terlebih dahulu menjadi orang yang lebih baik. Tanpa aku sadari, apa yang telah aku lakukan terhadap Abi membuatnya menjadi sosok yang membanggakan, paling tidak untuk aku dan suamikuโค

Bicara soal mengungkapkan cinta terhadap Abi. Duhhh, jangan tanya deh ya secinta apa aku sama dia, pastinya semua Ibu tau gimana rasa cinta sama anak itu. Aku cinta pada seseorang yang sejak dia belum muncul ke dunia pun aku sudah merasakan bahagia, merasa ingin segera memeluk dan menciumnya, dan merasa aku harus menjaganya dengan segenap jiwa ragaku. Saat dia dikandungan, caraku mencintainya adalah dengan menjaga diriku agar kandunganku baik, makan dan minum yang sehat-sehat agar bayi dikandunganku sehat, dan selalu berhati-hati agar tidak membahayakan makhluk kecil di perut. Begitu dia lahir, bentuk ungkapan cintaku terhadap Abi adalah aku berusaha memberikan yang TERBAIK untuk semua hal dihidupnya hingga hari ini.

Semakin dia besar, dia semakin mengerti, bahwa Ibunya cinta banget sama dia. Aku suka bilang, “I love you, Abidzar,” lalu dia menjawab “love you too…” Aaaaaa gemas, bikin meleleh. Sekarang ini, ngungkapin cinta ke dia nggak harus dengan memberikan dia mainan atau mengajaknya jalan-jalan saja, walaupun orang tua cari uang mati-matian ya emang buat siapa lagi, selain buat bahagiain anak. Tapi menurutku,  memberinya waktu yang berkualitas merupakan ungkapan cinta yang tidak ternilai. Makanya, aku selalu menyediakan waktu untuk mengajak dia bermain bersama, menggubris setiap omongannya, memperhatikan asupannya, memeluknya saat dia bersedih, menciumnya saat dia melakukan hal yang keren, dan membuat dia merasa orang tuanya, terlebih Ibunya selalu ada di sampingnya ๐Ÿ™‚

Sejujurnya, aku merasa masih jauh dari kata sempurna, kadang kala aku masih merasa belum cukup sabar mengasuh Abi. Kadang masih suka marah, suka kesel, suka melotot karena keaktifannya yang suka luar biasa ๐Ÿ˜‚ Tapi, setelah aku feeling guilty, aku bakal peluk dia dan minta maaf. Ekspresinya yang polos sambil bilang, “Gapapa Bu…” Bikin aku meleleh banget dan jadi pengen nangis. Duuuuh, kok Ibu masih nggak sabar sih sama kamu. Padahal, Ibu harusnya bersyukur lho punya kamu, banyak Ibu-ibu di luar sana yang berharap anaknya tumbuh aktif, Ibu udah dikasi anak aktif yang Alhamdulillah perkembangannya baik, kok masih nggak sabar juga:'( Namanya juga manusia ya, tempatnya salah dan khilaf.

Eh iya, aku punya dua buah cerita.

Cerita 1:
Seorang temenku pernah cerita. Dia hanya hidup berdua dengan Ibunya karena saat Bapaknya tau, temenku memiliki keterbatasan, Bapaknya malu dan enggan mengakui dia sebagai anak. Tegaaaaa! Ibunya tetep berdiri tegak, merangkul anaknya yang tersakiti, sambil terus berjuang menghidupi anaknya, bekerja apapun yang bisa dikerjakan sejauh itu halal. Kini, sekalipun anaknya masih dalam keterbatasan, dia sedikit-sedikit mampu membantu Ibunya untuk urusan keuangan karena dia diajarkan untuk menjadi mandiri. Dia mengeluarkan segala kemampuannya untuk paling tidak bisa membiayai hidupnya sendiri.

Cerita 2 :
Kisah lainnya, temenku sejak kecil Bapaknya sudah meninggal dunia. Dia hidup hanya dengan Ibu dan adiknya. Ibunya bekerja keras, sehingga mampu mengantarkan kedua anaknya menjadi sarjana.Bahkan, anaknya bekerja sambil kuliah untuk meringankan beban Ibunya.

Dari dua cerita di atas, aku berpikir bahwa Ibu itu selalu punya kekuatan lebih untuk tetap berdiri tegak sekalipun badai kehidupan menghantamnya sangat keras. Ibu selalu punya kekuatan yang entah dari mana, untuk bangkit lagi setelah jatuh, lalu menarik anaknya bangkit. Coba kalau Bapak yang harus struggling, cari uang sambil membesarkan anak-anak, aku tidak terlalu yakin Bapak-bapak mampu. Hmmn, soalnya Ibu-ibu itu biasanya mampu multitasking, sedangkan kaum Bapak nih, biasanya agak sulit multitasking, bener nggak yaaa? ๐Ÿ™‚

Dari cerita-cerita itu, aku juga belajar, bahwa aku harus mampu membuat Abi menjadi sosok yang mandiri dan mampu struggling dengan dunia yang keras ini. Karena aku, tidak mungkin selamanya ada di dekat dia untuk menolong kesulitan-kesulitannya karena akan ada waktunya dia harus menyelesaikan masalahnya dengan dirinya sendiri.

Kaya aku nih, tinggal jauh gini dari nyokap pada akhirnya banyak hal yang harus kupikirkan dan selesaikan sendiri. Misalnya, saat Abi sakit. Jujur aja, aku tuh Ibu yang panikannya minta ampun. Abi sakit sedikit aja aku bisa sedih, parno, dan super panik. Kaya beberapa hari lalu, Abi mendadak panas. Maklum deh, drama anak udah sekolah ya kan, ketularan temennya. Kasian banget ngeliat dia kehilangan keceriaannya.

image

Kalau dulu setiap Abi demam, biasanya aku langsung bawa dia ke dokter *maklum Emak2 panikan* Meskipun, Dokter anak Abi pun ujung-ujungnya selalu menyarakan untuk dikasih Tempra untuk penanganan awal kalau demam.

image
Otw dokter, lagi lemes-lemesnya nih ๐Ÿ˜ฅ

Padahal, nyokap juga selalu bilang sih, dulu waktu aku kecil, setiap aku demam, nyokap nggak begitu khawatir lagi karena ada Tempra yang selalu siap di kotak obat. Biasanya, langsung manjur! Harusnya sih nggak perlu sepanik itu, tapi namanya juga new mom ya kannn..

Makanya, Tempra udah pasti selalu stand by di kotak obat ataupun di dalam tas. Soalnya, yang namanya anak demam itu suka nggak terduga-duga deh. Jadi, kalaupun dia demam pas kita lagi pergi, Tempra udah siap menemani.

Dulu pas masih bayi, Abi dikasi Tempra Drop, tapi sekarang karena dia udah 2 tahun lebih, aku kasih dia Tempra Syrup deh. Tempra itu dibuat dengan rasa anggur yang disukai anak-anak, jadi anak-anak nggak susah deh minum obatnya. Udah gitu, selain meredakan demam, Tempra juga bisa meredakan nyeri.

image

image

Tempra syrup ini kemasannya terbuat dari plastik jd kalau kesenggol dan jatuh, dia nggak pecah. Jadi gampang deh, kalau mau dibawa bepergian sekalipun. Terus, nggak perlu ribet dikocok dulu karena formulanya 100% larut loh.

image

Tempra juga aman banget di lambung, jadi Buibu nggak usah khawatir karena aman banget kasih ke anak-anak. Selain itu, ada gelas takarnya juga dan penjelasan takaran untuk sesuai usianya juga jelas di kemasan obatnya. Kalau Abi sekarang ini dikasi 5 ml setiap minum. Kalau lagi demam biasanya aku kasih dia setiap 4 jam. Cuma, nggak boleh lebih dari 5 kali dalam sehari ya, Buibuu.. Begitu dikasi Tempra, dia bobonya pules deh. Ibu jadi tenang.

Nah, jangan lupa dikompres juga, tapi bukan dengan air dingin, melainkan air hangat ya. Untuk menurunkan suhu tubuh yang sedang tinggi, harus diturunkan dengan air yang suhunya sama. Kalau aku biasanya aku rendam Abi di bak air hangat supaya seluruh tubuhnya terkena guyuran air hangat.

image
Walaupun lemes, tetap mandi air hangat

Oiya, kalau lagi demam juga jangan pakai pakaian yang terlalu tebal dan serba tertutup. Kan biasanya pas anak sakit, pakai baju tangan panjang celana panjang, dikasih kaos kaki, kadang dipakaikan jaket dan selimut juga. Sebaiknya, jangan ya Buibu. Biasanya aku pakaikan dia baju yang tipis dan nyaman, biar panas tubuhnya keluar. Aku juga tetap memasang AC supaya ruangan sejuk, tapi jangan terlalu dingin juga. Biarkan dia merasa nyaman dengan suhu kamarnya.

image

Tapi yang perlu menjadi catatan Buibu nih, kalau demamnya udah lebih dari 2 hari (48 jam), tandanya si kecil harus dibawa ke dokter tuh, untuk penanganan medis lebih lanjut. 

Semoga pengalamanku ini berguna yaaa Buibu :):)

Seru ya jadi Ibu, harus terus belajar dan nggak boleh berhenti mencari tahu berbagai informasi seputar dunia anak. Yaaa faktanya, jadi Ibu itu nggak gampang. Hmmm, benar ternyata punya anak sih memang gampang, tapi membesarkannya, merawatnya, mendidiknya, bukan hal yang mudah. Sebab, tanggung jawabnya itu langsung ke Tuhan. Tanggung jawabnya gede bener, loohhhh!

Aku kalau ngomongin peran Ibu gini, suka mendadak mellow nih ๐Ÿ™‚ Aku jadi semakin tau, oooo begini toh nyokap, rasa senengnya, marahnya, bebannya, duhhh jadi tau yang nyokap rasain.

Selamat Hari Ibu untuk kamu, aku, kita, dan seluruh Ibu-ibu yang ada di dunia ini. Kita layak memberikan penghargaan pada diri kita sendiri bahwa kita adalah Ibu yang hebatโค

XOXO,

image

โคBuichaโค

Continue reading

Bermain dan Belajar Bersama @masakecil.id

Aku sering flashback ke masa anak-anakku yang sangat menyenangkan. Tidak perlu mengenal gadget, tidak asyik sendiri menonton TV. Masa kecilku dihabiskan dengan bermain, bermain berbagai mainan yang dibelikan orang tua, bermain bersama teman di luar rumah, berlarian di alam bebas, bercengkrama dengan anak lain, tak jarang berkelahi berebut mainan. Ingin rasanya, anakku Abi merasakan yang sama. 
Nyatanya, dunia tak lagi sama. Anak-anak pasti udah nggak tau lagi serunya main bekel, main karet, main dompu, main masak-masakan yang nyabutin daun dan bunga-bungaan, main kapal dari kaleng yg bisa jalan beneran di air, main kasti, dan permainan-permainan khas masa kecil yang seru lainnya.

Dunia ini telah berubah menjadi terlalu maju. Anak-anak kecil tak lagi bercengkrama dengan anak seusianya, tapi mereka lebih asyik menghabiskan waktu dengan gadget-nya, bahkan bisa super panik kalo gadget-nya ketinggalan atau batrenya habis. Mereka nggak panik kalo mobil-mobilan yang dibeliin orang tua ilang? Atau barbie-nya tangannya copot? Atau masak-masakannya pancinya ilang entah kemana? Atau kereta-keretannya relnya rusak?

Aku nggak mau itu terjadi sama Abi. Aku pengen dia menikmati hari-harinya dengan bermain yang seru dan menyenangkan. Yang jadi peer buat kita sebagai orang tua, yaitu harus mulai menyesuaikan diri dengan kemajuan ini. Kita siapkan diri kita dengan permainan-permainan yang mungkin jauh lebih modern tapi tetap mendidik. 

Well, aku pun ikutan acara playdate sama @masakecil.id yang kali ini temanya buah dan sayur ๐Ÿ˜Š Aku pengen Abi berinteraksi dengan anak lain sambil bermain, belajar, sekaligus menstimulasi motoriknya. Kali ini, bertempat di Perdikan Resto, Antasari, Jaksel. Enaknya, selain ada tempat terbukanya buat anak-anak main, ada beberapa binatang yang dilepas bebas. Ada kelinci, rusa, ayam, burung, dan burung merak. Anak-anak bebas bermain dan bereksplorasi. Sayangnya, Abi agak takut untuk berdekatan dengan rusanya hihi.

Acara dimulai dengan berkenalan dengan berbagai jenis buah dan sayur. Anak-anak diajak menempelkan beraneka buah dan sayur di board. Lalu, Tante Lala dan Tante Eno dari @masakecil.id juga ngasih liat anak-anak buah-buahan dan sayur-sayuran yang asli lho. Anak-anak boleh memegang. 

Selanjutnya, anak-anak diajak untuk outdoor activity, yaitu berbelanja beraneka ragam buah dan sayur di pasar mini. Untungnya, cuaca lagi bersahabat mendung-mendung gimana gitu, jadi anak-anak nggak kepanasan deh. Mereka dibekali sebuah keranjang dan dipersilahkan memilih beraneka ragam buah dan sayur. Karena Abi mulai mengenal nama-nama sayur dan buah, dia keliatan cukup bersemangat disuruh belanja sampai keranjangnya penuh, hehehe… 

Lalu, anak-anak belajar mencuci buah dan sayur. Nah, ini yang paling anak-anak suka sekalian ciprat-cipratin sampe basah, hehe… Buah dan sayur disikat pake sikat gigi dan air sabun ,setelah itu di lap pakai handuk, dan dimasukan keranjang kembali kalau sudah kering.

Selanjutnya anak-anak diajak memisahkan mana sayur dan mana buah. Kalau seumur Abi sih mungkin belum terlalu paham yang mana sayur dan yang mana buah. Walaupun, dia udah mulai afal beberapa nama sayur dan buah beserta bentuknya. Tapi, dikasi petunjuk kok berupa gambar dan tulisan.

Di sesi berikutnya, anak-anak diajak untuk belajar memotong buah-buahan sendiri. Hasilnya, udah pasti acak-acakan. Tapi, itu nggak penting sih, yang penting proses belajarnya๐Ÿ˜ Belajar memotong buah kaya gini bisa banget dipraktekin sendiri di rumah. Ini hal sederhana lho, tapi edukatif banget ya. Abis dipotong, buahnya boleh langsung dimakan. Asyiiikkk!

Nah, sesi terakhir buat anak-anak adalah membuat art craft. Ceritanya, bikin jus jeruk. Anak-anak diajak ngecap paper berbentuk gelas menggunakan potongan jeruk dan cat berwarna oranye, seolah-olah ini adalah jeruknya. Lalu, mengecap menggunakan spon dan cat berwarna putih, seolah-olah ini adalah es batunya. 

Tadaaaa…ini hasilnya….๐Ÿ˜Ž Boleh dibawa pulang buat kenang-kenangan deh.

Nah, nggak cuma sesi buat anak-anak aja nih. Ada parenting class juga buat para orang tua dengan pembicara Tante Rosa, seorang Psikolog. Temanya, menjadi Mama Montessorian. Lebih ke ngobrol santai sih dan kita bebas nanya seputar perkembangan dan dunia anak-anak.

Sesungguhnya, sudah menjadi tugas kita sebagai orang tua untuk memberikan stimulasi-stimulasi untuk perkembangan semua aspek kehidupan anak. Terlebih, di usia golden age (0-6 tahun), di mana si anak sedang mengalami pertumbuhan yang pesat-pesatnya.

Mau ikutan keseruan playdate bareng masa kecil? Follow aja instagram @masakecil.id untuk dapet beragam infonya๐Ÿ˜Š 

Semoga bermanfaat ya, Buibuuu โค
XOXO,

Buicha & Abidzar